Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.218/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat dalam penutupan perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (7/6/2024) ini. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah ditutup menguat 61 poin di level Rp 16.218/USD, dibanding kemarin di posisi Rp 16.279/USD.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka sekaligus analis rupiah Ibrahim Assuaibi menyorot sejumlah sentimen yang berpengaruh terhadap pergerakan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing (valas). Menurutnya, sentimen terhadap aset-aset berbasis risiko dapat dikatakan membaik pada pekan ini, menyusul penurunan suku bunga Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Kanada.
"Greenback terpukul oleh lemahnya data perekonomian AS. Ini terutama pada sektor tenaga kerja, yang meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan semakin percaya diri untuk memangkas suku bunga tahun ini," ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Jumat (7/6/2024).
Ia mengungkap, saat ini pelaku pasar melihat secara tajam meningkatnya taruhan terkait pemangkasan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin, pada September 2024. Salah satu yang juga menjadi sorotan pelaku pasar adalah data tenaga kerja AS yang cenderung melemah menjelang rilis nonfarm payrolls pada Jumat, waktu setempat. Analis PT Laba Forexindo Berjangka tersebut membaca rilis nonfarm payrolls akan menawarkan isyarat yang lebih pasti mengenai pasar tenaga kerja dan suku bunga.
Sementara itu The Fed juga akan mengadakan pertemuan pekan depan dan diprakirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil. Ia melanjutkan, saat ini, pelaku pasar tengah menunggu komentar gubernur bank sentral, yang akan dijadikan sebagia patokan ke depan.
"Komentar itu akan menjadi acuan pelaku pasar tentang apakah The Fed akan mempertahankan suku bunga atau menurunkan suku bunga di bulan September," lanjut Ibrahim.
Rilis Cadev Mei 2024
Sementara itu, pagi tadi, Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa RI sebesar US$ 139 miliar atau setara Rp 2.254,8 triliun (kurs Rp16.222/US$) pada akhir Mei 2024. Posisi tersebut naik sebesar US$ 2,8 miliar atau Rp 45 triliun jika dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya sebesar US$ 136,2 miliar.
Perkembangan cadangan devisa pada Mei 2024 tersebut dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, juga penerbitan global bond pemerintah. Posisi cadangan devisa pada Mei 2024 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Di sisi lain, permintaan dolar AS memasuki musim Haji cenderung meningkat untuk pembayaran kegiatan Haji. Hal ini akan menggerus potensi kenaikan dari cadangan devisa.
Sementara itu, permintaan dolar AS saat pembagian dividen dan kupon kepada non-resident, serta pembayaran pokok utang, juga berpotensi mendorong penurunan cadangan devisa.
Posisi cadangan devisa Mei lalu juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI memandang cadangan devisa ke depan akan tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi nasional yang terjaga.

