Rupiah Dibuka Melemah dalam Perdagangan Akhir Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Mata uang rupiah kembali dibuka melemah dalam pantauan perdagangan spot antarbank, Jumat (5/4/2024). Dilansir laman yahoo finance, rupiah dibuka pada level Rp 15.902 per USD atau melemah 13 poin.
Kemudian berdasar pantauan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia (BI), mata uang Garuda kemarin ditutup menguat 16 poin ke level Rp 15.907 per USD dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp 15.923 per USD.
Sementara itu pengamat rupiah Ibrahim Assuaibi turut menyoroti sinyal beragam yang diberikan Gubernur The Fed Jerome Powell mengenai penurunan suku bunga AS. Disebut oleh Ibrahim, meskipun Powell mengatakan The Fed pada akhirnya akan memangkas suku bunga pada akhir tahun ini, ia hanya memberikan sedikit petunjuk mengenai waktu dan skala potensi pemotongan tersebut.
Powell juga mengatakan bank sentral akan membutuhkan lebih banyak keyakinan bahwa inflasi bergerak menuju target tahunan sebesar 2%. Komentar Powell muncul tepat sebelum data utama nonfarm payrolls untuk bulan Maret, yang akan dirilis pada hari Jumat (5/4/2024).
"Namun peristiwa utama minggu ini adalah data nonfarm payrolls untuk bulan Maret, yang akan dirilis pada hari Jumat. Inflasi yang stagnan dan kuatnya pasar tenaga kerja adalah dua pertimbangan terbesar The Fed dalam berpotensi menurunkan suku bunga," jelas Ibrahim, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/4/2024).
Baca Juga
Posisi Cadangan Devisa
Posisi cadangan devisa Indonesia pada Maret 2024 diperkirakan semakin menciut disinyalir oleh Ibrahim turut menjadi sentimen domestik terkait pergerakan rupiah dalam perdagangan spot. Ini melanjutkan penurunan cadangan devisa pada Februari 2024 lalu.
Cadangan devisa pada Maret 2024 diperkirakan berada di level US$ 143 miliar. Posisi ini turun dari cadangan devisa pada Februari 2024 yang mencapai US$ 144 miliar. Turunnya cadangan devisa tersebut disebabkan oleh masih melambatnya ekspor komoditas utama RI, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan sejalan sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah mendekati Rp 16.000 per dolar AS.
"Hal ini karena cadangan devisa biasanya digunakan untuk intervensi pasar untuk menjaga supply dolar dan menahan depresiasi rupiah. Saya memperkirakan, nilai tukar rupiah akan dalam tren pelemahan seiring masih kuatnya tekanan eksternal yang diperkirakan persisten hingga akhir semester I 2024," terang Ibrahim.
Sementara itu, untuk semester II 2024, perkembangan nilai tukar rupiah diperkirakan lebih baik, dengan adanya ekspektasi penurunan suku bunga the Fed yang juga akan diikuti penurunan permintaan terhadap dolar AS.
"Sehingga, posisi cadangan devisa akan lebih baik pada akhir tahun, atau mencapai US$ 155 miliar. Perkiraan ini lebih baik jika dibandingkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2023 tercatat sebesar US$ 146,4 miliar," tuturnya.

