Jelang Akhir Pekan, Kurs Rupiah Melemah Dalam ke Rp 15.775/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah dalam terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat pagi (22/3/2024), menjelang akhir pekan. Namun, mata uang Garuda tercatat menguat terhadap yuan Cina.
Merujuk data Yahoo Finance, rupiah tergelincir terhadap greenback di level Rp 15.755 per USD hingga pukul 09.36 WIB. Nilai tukar rupiah terpangkas 0,65% dibanding hari sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan data yang diolah Riset Investortrust.id, secara year to date, rupiah terkoreksi sekitar 2,50% terhadap USD.
Baca Juga
Usai Cetak Rekor, Harga Emas Batangan Antam Turun Rp 8.000 per Gram
Pelemahan rupiah itu seiring tekanan penguatan dolar AS. Berdasarkan data MarketWatch, indeks dolar AS menguat pagi ini, ke level 104,19 atau 0,73%.
Penguatan indeks dolar lantaran imbal hasil obligasi US Treasury 2 tahun naik pada hari Kamis (21/03/2024) waktu AS. Pasalnya, investor masih mencerna panduan terbaru Federal Reserve (The Fed) mengenai kemungkinan jalur penurunan suku bunga Amerika Serikat ke depan. CNBC mencatat, imbal hasil US Treasury 2 tahun bertambah sekitar 4 basis poin menjadi 4,645%. Sedangkan imbal hasil US Treasury 10 tahun terakhir datar di 4,271%.
Sementara itu, berdasarkan data yang diolah Riset Investortrust.id, nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,23%terhadap yuan Cina (offshore) pada pagi ini, menjadi Rp 2.175,4 per yuan. Namun, secara ytd, rupiah masih terkoreksi 0,32%. Selama ini, negara komunis dengan penduduk terbanyak dan produk domestik bruto (PDB) terbesar kedua di dunia itu menjadi negara asal impor sekaligus tujuan ekspor terbesar barang-barang Indonesia.
Menunggu Jerome Powell
Pasar juga masih mencermati kebijakan The Fed mempertahankan suku bunga Fed Funds Rate pada akhir pertemuan kebijakan bulan Maret, pada Rabu lalu waktu setempat. Bank sentral di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu mengisyaratkan mengantisipasi pemotongan FFR tiga kali pada tahun ini. Namun, para pengambil kebijakan tidak memberikan petunjuk kapan penurunan suku bunga akan dilakukan.
Dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan, ia memperkirakan suku bunga akan diturunkan selama didukung oleh data ekonomi. “Kami percaya bahwa suku bunga kebijakan kami kemungkinan berada pada puncaknya untuk siklus seperti ini, dan jika perekonomian berkembang sesuai perkiraan, maka akan tepat untuk mulai mengurangi pembatasan kebijakan pada tahun ini,” katanya.
Baca Juga
Dot plot, yang mencerminkan proyeksi dari pejabat Fed, juga menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan memperkirakan tiga kali penurunan suku bunga pada tahun 2025, satu kali lebih sedikit dibandingkan yang direncanakan pada bulan Desember. Para trader saat ini memperkirakan peluang pemotongan sebesar 67% pada bulan Juni, menurut alat FedWatch CME Group.
Pelaku pasar mencermati sentimen dari hasil FOMC lalu tentang pemangkasan suku bunga di 2024 dan revisi naik target pertumbuhan ekonomi AS. "Rilis data terbaru klaim pengangguran mingguan AS secara mengejutkan turun ke level 210 ribu. Hal ini menunjukan kondisi pasar tenaga kerja AS yang kuat, senada dengan penilaian Gubernur The Fed. Selain itu, PMI Manufaktur AS periode Maret 2024, kembali meningkat bahkan menjadi level tertinggi dalam 2 tahun terakhir," kata analis Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Jumat (22/3/2024).
Ia menggarisbawahi, data terkini menggambarkan perbaikan kondisi industri AS, seiring kenaikan hasil produksi dan efisiensi pengiriman barang. Di sisi lain, PMI Jasa periode Maret 2024 turun ke level terendah selama 3 bulan, yang menunjukkan berkurangnya momentum pada sektor jasa dan pertumbuhan bisnis melunak.
"Sedangkan Bank of England (BOE) telah menjaga suku bunga tidak berubah, sesuai ekspektasi pasar, dan BOE menyampaikan bahwa belum waktunya memangkas suku bunga acuan. Meski demikian, pasar tetap memperkirakan BOE akan memangkas suku bunga pada Agustus 2024, setelah The Fed memangkas suku bunga di Juni 2024. Besok pelaku pasar masih akan menantikan komentar dari Gubernur The Fed, komentar dari pejabat The Fed negara bagian Atlanta (Raphael Bostic), dan hasil Baker Hughes Rig Count yang bisa memengaruhi harga komoditas minyak
global," paparnya.

