Rupiah Merosot dalam Pembukaan Perdagangan Jelang Akhir Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terdepresiasi, usai sempat menguat dalam perdagangan di pasar spot kemarin. Pada pembukaan perdagangan spot antarbank Jumat (19/4/2024) pagi, dilansir dari Yahoo Finance, mata uang Garuda merosot 92 poin ke level Rp 16.264 per USD.
Rupiah sebelumnya berhasil rebound usai mengalami rentetan tren pelemahan, berdasarkan data kurs Jisdor Bank Indonesia (BI). Nilau tukar rupiah terhdap greenback menguat 63 poin ke level Rp 16.177 per USD pada penutupan perdagangan Kamis (18/4/2024) kemarin.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan, prospek Fed Funds Rate dinilai tetap tinggi. Pelaku pasar menilai kebijakan bank sentral AS akan tetap ketat untuk waktu yang lebih lama. Hal tersebut terjadi usai pelaku pasar menyimak komentar dari sejumlah pejabat Federal Reserve.
Pasar juga memprakirakan pemangkasan Fed Fund Rate sebesar 44 basis poin (bps) tahun ini. Angka tersebut jauh lebih rendah dari prakiraan awal tahun ini dengan pemangkasan sebesar 160 bps. Selain itu, bulan September akan menjadi titik awal terbaru dari siklus pelonggaran, mundur dari perkiraan Juni 2024, seperti ditunjukkan oleh CME FedWatch Tool.
"Aktivitas ekonomi AS sedikit meningkat dari akhir Februari hingga awal April 2024. Perusahaan-perusahaan juga mengisyaratkan mereka memperkirakan tekanan inflasi akan tetap stabil (tinggi), merujuk survei Federal Reserve pada hari Rabu lalu," ujar Ibrahim.
Baca Juga
Baca Juga
Ketegangan Iran-Israel Mereda, Minyak AS Ditransaksikan di Bawah $83
Gubernur The Fed Michelle Bowman pada Rabu lalu mengatakan kemajuan dalam perlambatan inflasi AS mungkin terhenti. Selain itu, masih menjadi pertanyaan apakah suku bunga cukup tinggi, untuk memastikan inflasi kembali ke target 2% The Fed.
Sentimen Domestik
Sementara itu, berdasarkan survei penjualan eceran Bank Indonesia (BI), kinerja penjualan eceran pada Maret 2024 diperkirakan tetap kuat. Ini seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat pada periode Ramadan.
Hal itu tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2024 mencapai 222,8, tumbuh sebesar 3,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Berdasarkan kelompoknya, sebagian kelompok tercatat meningkat, antara lain subkelompok sandang sebesar 5,9% yoy, kelompok suku cadang dan aksesori 12,0% yoy, serta bahan bakar kendaraan bermotor 13,2% yoy.
Secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan meningkat dengan pertumbuhan sebesar 4,1% mtm, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tumbuh 1,7% mtm. Hal tersebut sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat saat bulan Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional [HBKN] Idulfitri, serta program potongan harga.
Seluruh kelompok berada pada fase ekspansi, dengan pertumbuhan tertinggi pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi sebesar 13% mtm, diikuti subkelompok sandang 11,1%, dan kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya 6,1% mtm.
Kinerja penjualan eceran pada kuartal pertama 2024 diperkirakan tumbuh sebesar 3,7% yoy, lebih tinggi dari kuartal ke empat 2023 yang tumbuh 1,6% yoy. Peningkatan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 5,4% yoy dan 12,9% yoy.

