Februari, Ekspor Bijih dan Logam Naik Tertinggi 34,01%
JAKARTA, investortrust.id – Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Februari 2024, komoditas dengan peningkatan tertinggi dibanding Januari 2024 adalah bijih, logam, terak, dan abu sebanyak US$ 223,5 juta (34,01%). Sedangkan penurunan terdalam adalah besi dan baja sebesar US$ 622,5 juta (27,08%).
"Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia Februari 2024 mencapai US$ 19,31 miliar, atau turun 5,79% dibanding ekspor Januari 2024. Dibanding Februari 2023, nilai ekspor turun sebesar 9,45%,” kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta, Jumat (15/3/2024).
Ekspor nonmigas Februari 2024 mencapai US$ 18,09 miliar. Ini turun 5,27% dibanding Januari 2024, dan turun 10,15% jika dibanding ekspor nonmigas Februari 2023.
Pada Februari 2024, ekspor nonmigas terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 4,06 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 2,10 miliar dan India US$ 1,53 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 42,52%. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$ 3,10 miliar dan US$ 1,41 miliar.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2024 sebanyak US$ 39,80 miliar, turun 8,81% dibanding periode yang sama tahun 2023. Sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 37,19 miliar atau turun 9,24%.
Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Februari 2024 turun 7,64% dibanding periode yang sama tahun 2023, demikian juga ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 15,95%. Sedangkan ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 8,18%.
Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Februari 2024 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 5,95 miliar (14,95%). Berikutnya, Kalimantan Timur US$ 4,17 miliar (10,47%) dan Jawa Timur US$ 3,80 miliar (9,55%).
Baca Juga
Februari 2024, Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$ 0,87 Miliar
Turun, Impor US$ 18,44 Miliar
Secara keseluruhan, lanjut dia, nilai impor Indonesia Februari 2024 mencapai US$ 18,44 miliar. Impor turun 0,29% dibandingkan Januari 2024 atau naik 15,84% dibandingkan Februari 2023.
Impor migas Februari 2024 senilai US$ 2,98 miliar, naik 10,42% dibandingkan Januari 2024 atau naik 23,82% dibandingkan Februari 2023. Impor nonmigas Februari 2024 senilai US$ 15,46 miliar, turun 2,12% dibandingkan Januari 2024 atau naik 14,42% dibandingkan Februari 2023.
Dari sepuluh golongan barang utama nonmigas Februari 2024, mesin/peralatan mekanis dan bagiannya mengalami penurunan terbesar senilai US$ 112,0 juta (3,91%) dibandingkan Januari 2024. Sementara peningkatan terbesar adalah kendaraan dan bagiannya US$ 87,5 juta (13,36%).
Baca Juga
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Februari 2024 adalah Tiongkok US$ 11,87 miliar (37,98%), Jepang US$ 2,24 miliar (7,17%), dan Thailand US$ 1,87 miliar (5,98%). Impor nonmigas dari ASEAN US$ 5,54 miliar (17,73%) dan Uni Eropa US$ 1,92 miliar (6,15%).
Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari–Februari 2024 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada golongan barang konsumsi US$ 672,9 juta (22,73%). Impor bahan baku/penolong turun US$ 1.087,2 juta (4,23%), dan barang modal US$ 812,5 juta (14,20%).
"Neraca perdagangan Indonesia Februari 2024 mengalami surplus US$ 0,87 miliar. Ini terutama berasal dari sektor nonmigas US$ 2,63 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai US$ 1,76 miliar," ucap Amelia.
