Ini Dia Risikonya jika Subsidi Energi Dipangkas untuk Makan Siang Gratis
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menyebut, pemangkasan subsidi energi untuk program pemberian susu dan makan siang gratis memiliki risiko yang harus diantisipasi. Pasalnya, langkah itu bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan PDB nasional.
Komaidi menyebut, kebutuhan terhadap energi seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pasalnya, ketika aktivitas naik, baik ekonomi maupun kegiatan sosial Masyarakat, biasanya perlu daya dukung energi yang lebih besar.
“Sebaliknya, kalau konsumsi energinya turun, otomatis aktivitas ekonomi dan aktivitas masyarakat juga turun. Karena kan kalau energi turun berarti mengindikasikan juga kebutuhan untuk support produksi turun, untuk support distribusi barang dan jasa juga turun, aktivitas kegiatan masyarakat juga turun,” jelas Komaidi Notonegoro saat dihubungi Investortrust, Kamis (22/2/2024).
Baca Juga
Terkait hal tersebut, Komaidi mengambil contoh saat terjadi pandemi Covid-19 di tahun 2020-2021. Sebab, ketika itu konsumsi BBM turun signifikan karena banyak masyarakat yang berada di rumah dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Dijelaskan oleh Komaidi, kondisi tersebut lantas membuat pertumbuhan ekonomi pada saat itu negatif, sebab aktivitas masyarakat juga turun drastis. Maka dari itu, jika subsidi energi dipangkas dan menyebabkan harga BBM naik, dikhawatirkan akan mempengaruhi PDB.
“Nah kenapa perlu diwaspadai? Kalau kita lihat struktur PDB kita, strukturnya, kalau dari sisi pengeluaran itu kan sebenarnya dibagi empat, ada konsumsi, investasi sektor swasta, ada pengeluaran pemerintah, kemudian ada ekspor neto. Nah komponen terbesarnya ada di konsumsi,” terang dia.
Komaidi memaparkan, konsumsi sejatinya membentuk PDB Indonesia antara 55-60%. Dengan kata lain ekonomi Indonesia ditentukan atau sensitif terhadap konsumsi masyarakat itu sendiri.
Baca Juga
Perlukah Susu dan Makan Siang Gratis Geser Pos Anggaran Subsidi BBM?
“Sementara energi itu erat kaitannya dengan kegiatan konsumsi juga. Jadi kalau harga energinya naik, nanti kan konsumsi masyarakat akan turun. Kenapa turun? Karena harga-harga bisa menjadi lebih mahal,” sebut Komaidi.
Pada akhirnya, Komaidi mengatakan ini bisa berdampak ke pertumbuhan ekonomi menjadi negatif atau minimal tertahan pertumbuhannya. Persoalannya, jika PDB-nya kecil, maka otomatis penerimaan pajaknya pun kecil. Sebab tax ratio merupakan basis penerimaan pajak.
“Tax ratio itu rasio tertentu atau prosentase tertentu dari PDB. Nah kalau PDB-nya turun, otomatis kan nilai akhirnya juga akan turun. Nah kalau penerimaan pajak turun, penerimaan APBN juga turun karena hampir 70% penerimaan di APBN dari pajak. Jadi artinya ada risiko ancaman di sana,” pungas Komaidi.
Baca Juga

