Apa yang Terjadi Jika Subsidi BBM Dipangkas untuk Program Makan Siang Gratis? Ini Kata Pengamat Energi
JAKARTA, investortrust.id - Pemberian susu dan makan siang gratis yang menjadi program unggulan pasangan capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka disebut-sebut bakal memangkas anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM). Isu ini menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat dan pengamat energi.
Menanggapi hal tersebut, pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro cukup memaklumi jika anggaran subsidi energi harus dikorbankan demi menjalankan program baru tersebut. Pasalnya, jika melihat dari mata anggaran APBN, alokasi untuk subsidi energi terbilang besar.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Program Makan Siang dan Susu Gratis Jawaban Persoalan Bangsa
“Kalau dari sisi anggaran mungkin logis ya, karena tim pemerintah yang baru kan pasti akan menyisir dulu dari mana nih mata anggaran yang besar, yang bisa digeser. Dari aspek menemukan mata anggaran yang besar mungkin bisa dipahami,” kata Komaidi saat dihubungi investortrust.id, Kamis (22/2/2024).
Komaidi memaparkan, subsidi energi memiliki beberapa komponen, meliputi bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik. Ia menyebut setiap tahunnya anggaran untuk subsidi energi berkisar Rp 200-300 triliun.
“Bahkan pada 2021, kalau nggak salah, ketika Bu Menkeu Sri Mulyani menyampaikan bahwa tidak ada adjusment harga Pertalite, waktu itu (anggaran subsidi energi) diprediksi bisa tembus Rp 500-700 triliun ketika harga minyak dunia sedang naik,” ujar Komaidi.
Baca Juga
TKN Prabowo-Gibran Sosialisasikan Program Makan Siang dan Susu Gratis
Prabowo Subianto pernah mengungkapkan, dibutuhkan sekitar Rp 460 triliun untuk membiayai program susu dan makan siang gratis. Maka dari itu, Komaidi tak akan heran jika ada anggaran dari sektor lain yang harus dipangkas.

