Kepala Badan Gizi Ungkap Alasan Perubahan Nama Makan Siang Gratis Jadi Makan Bergizi Gratis
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengungkapkan, dengan sejumlah pertimbangan dan landasan yang telah diuji selama sembilan bulan, istilah makan siang gratis akhirnya sepakat diubah menjadi makan bergizi gratis (MBG).
Karena, bagi pelajar di usia pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga kelas 2 SD biasanya kegiatan belajar mengajar (KBM) berakhir di jam 10 pagi. Sehingga makan bergizi gratis harus dikirimkan sekitar jam 8 pagi.
Kemudian, untuk siswa usia kelas 3 hingga 6 S, biasanya pulang sekolah sekitar jam 12 siang, sehingga makanan harus dikirimkan pada jam 9 pagi, agar bisa dimakan pada pukul 9:30 pagi. Untuk pelajar SMP dan SMA berakhirnya KBM sekitar jam 2 siang hingga jam 4 sore, sehingga makan bergizi gratis setidaknya harus disediakan jam 12 siang.
Baca Juga
Badan Gizi Akan Keluarkan Rp 1,2 Triliun per Hari untuk Program Makan Bergizi Gratis
“Sehingga terminologi makan siang jadi tidak cocok. Pak Prabowo putuskan namanya menjadi MBG, tapi semua menunya, proses delivery-nya sama,” ujar Dadan, di acara BNI Investor Daily Summit 2024, yang digelar di JCC, Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Selain untuk anak sekolah, lanjut dia, program MBG juga sangat penting diberikan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Karena menurut data yang diperoleh pihaknya, anggota rumah tangga berdasarkan kelas ini terbalik.
Baca Juga
Hashim Ungkap Alasan Prabowo Ingin Bagikan Makan Bergizi Gratis 2 Kali Sehari
Artinya, kelas atas yang notaben yang memiliki penghasilan cukup itu punya anggota keluarga yang terbilang sedikit, misalnya hanya punya anak satu orang. Sementara untuk keluarga miskin rata-rata punya tiga anak.
“Jadi bisa dibayangkan populasi Indonesia di 2045, ketika tidak kita intervensi dengan gizi yang baik,” kata Dadan.
Menurutnya program MBG ini menjadi sangat krusial bagi Indonesia, oleh karena itu pemerintahan Prabowo-Gibran memutuskan untuk melakukan investasi besar-besaran terhadap sumber daya di Indonesia.
”Dan investasi yang paling besar itu ada di makan bergizi gratis. Yang nanti kalau dilaksanakan secara penuh, totalnya akan mencapai 82,9 juta dan akan menghabiskan anggaran Rp 400 triliun,” ucap Dadan.

