Kurs Rupiah Ditutup Menguat Kamis Sore, Analis Sebut Sentimen Ini
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan valas, Kamis (24/10/2024). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar mata uang Garuda menguat 27 poin ke level Rp 15.593/USD. Sebelumnya, rupiah sempat merosot ke posisi Rp 15.620/USD pada penutupan perdagangan Rabu (23/10/2024) kemarin.
Di pasar spot valas, sebagaimana dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Hingga pukul 17.00 WIB, kurs rupiah terangkat 31 poin (0,20%) ke level Rp 15.583/USD. Sedangkan pada penutupan perdagangan valas sebelumnya, kurs rupiah terdepresiasi ke level Rp 15.614/USD.
Analis yang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebut ada sejumlah sentimen yang memaksa dolar AS merosot dalam perdagangan hari ini. "Calon dari Partai Republik Donald Trump terlihat mengungguli Wakil Presiden AS Kamala Harris dalam pemilihan umum mendatang, yang akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi. Pasar masih memperkirakan persaingan yang sengit, yang membuat ketidakpastian tetap tinggi atas masa depan politik AS," kata Ibrahim dalam keterangan di Jakarta, Kamis (24/10/2024).
Sementara komentar terbaru dari pejabat The Fed mengindikasikan bank sentral akan mengambil pendekatan bertahap untuk memangkas suku bunga. "Beige Book" Bank Sentral AS yang dirilis pada Rabu menunjukkan aktivitas ekonomi sedikit berubah, dari September hingga awal Oktober.
"Sementara, perusahaan melihat peningkatan dalam perekrutan. Hal itu melanjutkan tren baru-baru ini yang telah memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memutuskan pemotongan suku bunga acuan yang lebih kecil sebesar 25 basis poin, pada pertemuan November," kata Ibrahim.
Baca Juga
Pasar memperkirakan peluang 88,9% untuk pemotongan 25 basis poin pada pertemuan The Fed November. Peluangnya sebanyak 11,1% bahwa Bank Sentral mempertahankan suku bunga tetap stabil, menurut FedWatch Tool CME.
"Pasar sepenuhnya memperkirakan penurunan setidaknya 25 bps sebulan lalu, dengan peluang 53% untuk penurunan 50 bps," paparnya.
Baca Juga
Pemodal Asing kembali Net Sell Rp 462 Miliar, Lima Saham Ini Mendominasi

