Sentimen Global Bawa Kurs Rupiah Menguat Kamis
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah menguat dalam penutupan perdagangan Kamis (5/12/2024), didorong sentimen global. Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis, nilai tukar mata uang Garuda menguat 65 poin ke level Rp 15.892/USD, dari hari sebelumnya di Rp 15.957/USD.
Dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak menguat 69 poin (0,43%) ke level Rp 18.855/USD. Dalam penutupan perdagangan sebelumnya rupiah berada di posisi Rp 15.924/USD.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, menguatnya kurs rupiah tidak lepas dari sentimen dari Amerika Serikat. Dia mengatakan, investor regional saat ini merasa sedikit lega mendengar pidato Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell di sebuah acara New York Times.
Powell mengisyaratkan kekuatan ekonomi AS dan tidak meremehkan ekspektasi untuk penurunan suku bunga pada bulan Desember. "Meski, ia juga mengisyaratkan pendekatan yang lebih hati-hati terhadap pelonggaran di masa mendatang," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/12/2024).
Baca Juga
Presiden Korsel Cabut Darurat Militer
Dari Korea Selatan, Presiden Yoon mengumumkan darurat militer pada hari Selasa dalam upaya untuk melawan 'kekuatan antinegara' di antara lawan-lawan politiknya, tetapi mencabut tindakan tersebut dalam beberapa jam setelah ia menghadapi reaksi keras. Ini termasuk penolakan parlemen dan protes publik. Hal ini juga memicu tuntutan agar Yoon dimakzulkan oleh para legislator Negeri Ginseng tersebut.
Kementerian Keuangan Korea Selatan pada hari Kamis mengumumkan dana stabilisasi pasar sebesar 40 triliun won (US$ 28,35 miliar) setelah deklarasi Yoon mengganggu pasar. Bank of Korea dapat membeli obligasi dan memperluas operasi repo, dengan otoritas siap bertindak berdasarkan rencana darurat jika diperlukan.
"Di Asia, aktivitas jasa negara kembali tumbuh pada bulan November, karena permintaan yang membaik. Data menunjukkan bahwa neraca perdagangan negara pulih pada bulan Oktober karena permintaan komoditas yang membaik, terutama di negara pengimpor utama Cina," ujar Ibrahim.
Baca Juga
UMP Naik 6,5%, Menperin Agus Rencanakan Insentif Mobil Hybrid dan Listrik
Investor, lanjut dia, tetap waspada karena Asia menghadapi risiko geopolitik yang meningkat. Ini termasuk momok kenaikan tarif perdagangan AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump yang akan datang.
"Fokus minggu ini adalah pada data paryroll nonpertanian utama di AS. Ini untuk kejelasan lebih lanjut tentang prospek suku bunga The Fed," paparnya.

