Awal Pekan, Kurs Rupiah Melemah ke Rp 15.793/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin (25/3/2024). Mata uang Garuda tercatat juga melemah terhadap yuan Cina.
Merujuk data Yahoo Finance, rupiah tergelincir terhadap greenback sejak pagi, dan berada di level Rp 15.793 per USD hingga pukul 11.56 WIB. Nilai tukar rupiah terpangkas 0,13% dibanding hari perdagangan sebelumnya.
Baca Juga
IHSG Sesi I Turun 24 Poin, Lima Saham Dipimpin POLU Justru Terbang
Nilai tukar rupiah tercatat juga melemah terhadap yuan Cina (offshore) pada awal pekan ini, menjadi Rp 2.192,5 per yuan. Ini terkoreksi signifikan 0,48%.
Cermati Komentar Hawkish
Para pelaku pasar juga mencermati sentimen global. Kongres Amerika Serikat akhirnya menyetujui paket rancangan undang-undang (RUU) fiskal pada Sabtu 23
Maret 2024, sehingga penutupan pemerintahan AS yang dikhawatirkan oleh pasar tidak terjadi.
"RUU fiskal senilai US$ 1,2 triliun sempat tertunda selama 6 bulan. Ini rencananya sebanyak 70% akan dialokasikan untuk pertahanan. Pelaku pasar juga masih mencermati komentar hawkish dari Gubernur The Fed Atlanta, Raphael Bostic, yang memperkirakan hanya akan ada 1 kali pemangkasan suku bunga dengan total 25 bps untuk tahun 2024," kata analis Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu di Jakarta, Senin (25/3/2024).
Baca Juga
Pendapatan Negara akan Turun 5,4%, Menkeu: APBN Surplus Rp 22,8 Triliun per 15 Maret
Pandangan Bostic mempertimbangkan kondisi inflasi yang persisten, akibat harga komoditas energi yang kuat. Selain itu, data-data ekonomi AS lebih kuat dari perkiraan. Pandangan ini berlawanan dengan komentar Gubernur The Fed Jerome Powell di awal pekan, yang memberi signal pemangkasan suku bunga 3 kali di 2024 ini.
"Di pekan ini, pelaku pasar akan fokus mencermati data inflasi PCE AS dan komentar dari berbagai gubernur bank sentral negara bagian terkait proyeksi pemangkasan suku bunga acuan tahun ini," imbuhnya.
Sementara itu, Kementrian Dalam Negeri Jepang merilis data inflasi periode Februari 2024 naik 2,8% yoy. Inflasi ini merupakan yang tertinggi selama 4 bulan terakhir, didukung oleh kenaikan harga energi dan biaya pariwisata.
Sedangkan dari Eropa, Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey mengatakan, pemangkasan suku bunga lebih awal bukanlah suatu hal yang mustahil.
