Awal Pekan, Kurs Rupiah Melemah ke Rp 15.891/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan pekan ini, Senin pagi (1/4/2024). Mata uang Garuda tercatat juga melemah terhadap yuan Cina.
Berdasarkan data Yahoo Finance, mata uang Garuda tergelincir terhadap greenback di level Rp 15.891 per USD hingga sekitar pukul 09.30 WIB. Nilai tukar rupiah terpangkas 0,26% dibanding perdagangan terakhir hari sebelumnya.
Baca Juga
Harga Emas Antam Makin Perkasa, Tembus Rp 1.254.000 per Gram
Sementara itu, nilai tukar rupiah tercatat juga melemah terhadap yuan Cina pada pagi ini. Kurs menjadi Rp 2.191,2 per yuan atau terkoreksi 0,33% dibanding perdagangan terakhir hari sebelumnya.
Tim Riset InvestasiKu mencatat, pada penutupan perdagangan terakhir hari sebelumnya, kurs rupiah sebesar Rp 15.855 terhadap USD. Data yang paling dinantikan pasar pekan ini yaitu rilis data inflasi personal consumption expenditures (PCE) maupun PCE inti sesuai perkiraan, bahkan PCE bulanan lebih rendah dari perkiraan.
“Data ini direspons positif oleh Chairman The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada pidato akhir pekan lalu. Ia optimistis bahwa perekonomian AS tidak berpotensi resesi, meskipun terkait pemangkasan suku bunga tetap perlu berhati-hati dan jika inflasi benar-benar konsisten menuju target 2%,” kata analis dari InvestasiKu Cheril Tanuwijaya.
Baca Juga
IHSG Terjungkal 50 Poin Awal Transaksi, Namun Ada Saham Yang Terbang
Dengan rilis data PCE dan komentar pejabat tertinggi Bank Sentral Amerika Serikat tersebut, pelaku pasar semakin optimistis terkait pemangkasan suku bunga Fed Funds Rate yang dimulai di Juni 2024. Berdasarkan survei CME, probabilitas pemangkasan suku bunga 25 bps di Juni 2024 meningkat ke level 61% dari 28 Maret 2024 yang di level 55%.
Sementara itu, berdasarkan data e-Rate BCA, kurs jual pada Senin (1/4/2024) tercatat Rp 15.905 per USD dan kurs beli Rp 15.885 per USD. Kurs rupiah ini melemah dibanding pada 28 Maret 2028, yakni kurs jual Rp 15.880 per USD dan kurs beli Rp 15.850 per USD
PMI Cina Naik
Sedangkan di Asia, PMI Manufaktur Tiongkok periode Maret 2024 naik ke 50,8 dari 49,1. Data ini menunjukkan peningkatan aktivitas manufaktur dalam 6 bulan terakhir.
“Membaiknya PMI Manufaktur ini dilihat oleh pasar sebagai hasil dari stimulus pemangkasan suku bunga oleh PBoC. Ini meningkatkan optimisme tercapainya target pertumbuhan ekonomi 2024 Tiongkok di level 5%, meskipun masih terjadi krisis sektor property,” papar analis Mega Capital Sekuritas ini.

