JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah tumbang dalam penutupan perdagangan awal pekan ini, Senin (15/7/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat 20 poin ke level Rp 16.174/USD, setelah sebelumnya sempat menguat di posisi Rp 16.154/USD pada Jumat (12/7/2024) lalu.

Pada perdagangan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 15.30 WIB, kurs rupiah bergerak melemah 30 poin ke level Rp 16.164/USD. Pada hari perdagangan sebelumnya, kurs rupiah tercatat berada di posisi Rp 16.134/USD.


Sementara itu, pada Senin pukul 17.33 WIB, indeks dolar AS tercatat melemah. DXY ini melemah 0,04 poin atau 0,03% ke level 104,06.

"Secara umum, greenback berada di bawah tekanan dari dampak meningkatkan probabilitas The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada September 2024 menjadi 94,5%, vs 56,5% pada pertemuan FOMC terakhir pada 12 Juni lalu. Pejabat The Fed telah menjadi lebih yakin tentang inflasi AS yang melanjutkan penurunan setelah kuartal pertama," kata Ekonom Senior Bank DBS Radhika Rao di Jakarta, Senin ini. 

Baca Juga

Kurs Rupiah Melemah ke Rp 16.140/USD Hari Ini


Inflasi IHK di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu jatuh pada bulan ketiga dan membukukan negatif pertamanya secara bulan ke bulan sejak Mei 2020. Selanjutnya, pengukur inflasi favorit The Fed, PCE deflator, harus mencerminkan pembacaan CPI yang lebih lembut.

Inflasi PCE turun menjadi 2,6% year on year di bulan Mei, memukul perkiraan Fed untuk kuartal IV-2024. Inflasi inti lebih mengesankan, dengan turun menjadi 2,6%, di bawah perkiraan The Fed 2,8%. 

"Hari ini, Ketua The Fed Jerome Powell akan fokus pada 'risiko seimbang' selama wawancaranya di Klub Ekonomi Washington DC," paparnya.

Powell akan kemungkinan kurang peduli tentang mengurangi suku bunga terlalu cepat tanpa menyalakan kembali inflasi, sementara mengakui bahwa penurunan yang terlambat bisa memicu kehilangan ekspansi ekonomi.

Baca Juga

Awal Pekan, Gangguan Pasokan Iran Picu Harga Minyak Kembali Bullish

Di Amerika Serikat, tingkat pengangguran memperpanjang kenaikannya menjadi 4,1% di Juni, setelah mencapai 4% pada bulan Mei. Namun, dalam kesaksian setengah tahunannya, pekan lalu, Powell mengatakan kepada anggota parlemen AS bahwa The Fed bisa merespons jika pasar tenaga kerja AS melemah signifikan secara tak terduga.  

Dengan asumsi inflasi AS dan data pekerjaan tetap bergerak seperti tren saat ini, The Fed bisa menjadi kurang netral dan menegaskan kecenderungan bias untuk menurunkan suku bunga pada bulan September mendatang. "Kami memelihara pandangan bahwa The Fed harus mulai menurunkan suku bunga setiap kuartal dari kuartal III-2024 hingga kuartal IV-2025," tutur Radhika.