Rupiah Bergerak Melemah ke Posisi Rp 18.045 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah melemah 0,13% ke posisi Rp 18.045 per dolar AS.
Selain rupiah pelemahan nilai tukar juga terpantau terjadi pada ringgit Malaysia dan peso Filipina. Ringgit melemah 0,02% dan peso melemah 0,09%.
Sementara itu, beberapa mata uang di kawasan Asia bergerak menguat. Yen Jepang menguat 0,11%, won Korea Selatan menguat 0,18%, dolar Singapura menguat 0,01%, dan baht Thailand menguat 0,05%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan terjadi pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY sebesar 0,14% menjadi 101,65. Ini terjadi seiring turunnya imbal hasil US Treasury yang mengurangi momentum penguatan dolar AS.
Pelemahan pasar perumahan AS turut memperkuat ekspektasi bahwa the FEd menahan suku bunga pada bulan ini.
Ekspektasi pasar sangat mengarah pada keputusan The Fed untuk menahan suku bunga dalam pertemuan FOMC pada 27–28 Oktober, dengan 94 dari 100 ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan suku bunga Federal Funds Rate (FFR) tetap pada kisaran 3,75–4,00%.
Namun, konsensus masih memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember karena inflasi tetap berada di atas target. Kondisi ini mempertahankan prospek kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Baca Juga
BI: Tekanan Persepsi Pengumuman MSCI ke Rupiah Masih Dalam Batas Normal
Harga minyak mentah Brent relatif tidak berubah di level US$ 108,8 per barel, bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir di tengah risiko gangguan pasokan yang terus berlanjut di Timur Tengah.
Penurunan persediaan minyak mentah AS menopang harga, sementara potensi kemajuan dalam negosiasi Rusia–Ukraina memberikan sedikit penyeimbang. Namun, serangan di sekitar Selat Hormuz dan kawasan Teluk terus mempertahankan premi risiko geopolitik yang signifikan.
Pelemahan DXY pada perdagangan semalam, penurunan imbal hasil US Treasury tenor panjang, serta meningkatnya selera risiko global berpotensi menopang rupiah pada perdagangan hari ini.
Keputusan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, memperkuat insentif lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta secara bertahap menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) juga diperkirakan membantu menstabilkan likuiditas domestik dan kondisi pasar valuta asing. Namun, ketidakpastian terkait MSCI dan arus keluar saham oleh investor asing yang masih berlanjut tetap menjadi risiko utama pelemahan rupiah.
