Rupiah Bergerak Menguat di Posisi Rp 17.858 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (29/6/2026). Nilai tukar rupiah menguat 0,36% menjadi Rp 17.858 per dolar AS pada pukul 09.22 WIB.
Bloomberg mencatat sejumlah mata uang di Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,02%, rupee India menguat 0,27%, ringgit Malaysia menguat 0,61%, dan peso Filipina menguat 0,05%.
Sementara itu, baht Tailan melemah 0,06%. Pelemahan juga terpantau terjadi pada yen Jepang dan won Korea Selatan yang masing-masing 0,01% dan 0,47%.
Baca Juga
Inflasi AS Melonjak, Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Kian Melemah
Analis Doo Financial Future, Lukman Leong, mengatakan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Ini seiring kembali terjadinya eskalasi di timur tengah oleh saling serang antara Iran dan AS.
“Ini memicu ketidakpastian pada prospek perdamaian di kawasan dan kenaikan harga minyak mentah dunia.,” ujar Lukman.
Diberitakan investortrust.id, seorang sumber Pakistan yang terlibat dalam proses mediasi mengatakan kepada MS NOW bahwa pembicaraan memang dihentikan sementara.
Namun, seluruh pihak masih mempertahankan tim perunding di Swiss agar negosiasi dapat segera dilanjutkan ketika situasi keamanan memungkinkan. Sumber tersebut tidak menjelaskan pihak mana yang terlebih dahulu memutuskan menghentikan pembicaraan.
Baca Juga
LPS Naikkan Tingkat Bunga Penjaminan Rupiah 25 Bps, Valas Tetap 2%
Di sisi lain, seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump membantah bahwa proses diplomasi telah gagal.
"Tidak ada yang dibatalkan. Pembicaraan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) tetap berjalan sesuai rencana dalam beberapa hari ke depan," kata pejabat tersebut kepada MS NOW, dikutip dari CNBC, Senin (29/6/2026).
Laporan Axios juga menyebut Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan sementara aksi saling serang dan menjadwalkan pertemuan lanjutan pada pekan ini. Namun, laporan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.
