Rupiah Ditutup Menguat di Posisi Rp 17.755 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (10/8/2026). Rupiah menguat 0,79% terhadap dolar AS menjadi Rp 17.755 per dolar AS pada pukul 14.59 WIB.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mencatat sejumlah peristiwa yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah hari ini. Dari eksternal, muncul harapan bahwa Iran dan Oman akan segera mencapai kesepakatan yang berujung pada pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meskipun demikian, kesepakatan dengan Oman sudah berada di "tahap akhir", Iran menegaskan kembali bahwa jalur pelayaran tersebut baru akan dibuka kembali setelah Washington memenuhi syarat-syarat lain, termasuk pemberian kompensasi dari AS kepada Iran atas serangan-serangan luas yang terjadi.
Saat ini, Iran dan AS tidak sedang melakukan perundingan. Teheran tidak akan memulai perundingan selama Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni 2026, ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada hari Minggu.
Selain itu, meredanya kekhawatiran atas inflasi yang dipicu oleh energi dan mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed). Dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, pasar mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga
Rupiah Menguat 0,85%, Pasar Sambut Positif Calon Gubernur BI Destry
Di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Penunjukan ini tertuang dalam Surat Presiden (Surpres) yang telah diserahkan kepada pimpinan DPR untuk mengisi posisi kepala bank sentral
Selain faktor Destry, kepercayaan konsumen Indonesia kembali melemah pada Juli 2026. Indeks keyakinan konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada Juni 2026. Penurunan tersebut menjadi yang ketiga secara beruntun. Tren ini menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi dan menentukan keputusan belanja.
Meski turun, level IKK masih berada di atas 100. Artinya, konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir.
Pelemahan keyakinan konsumen menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

