Rupiah ke Level Rp 17.719 per Dolar AS, Analis: Berpotensi Lanjut Menguat ke Rp17.500 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi rupiah di akhir perdagangan pada Senin (15/6/2026). Posisi rupiah menguat di posisi Rp 17.719 per dolar AS atau menguat 1,12% dibandingkan penutupan pada Jumat (12/6/2026) yang sebesar Rp 17.921 per dolar AS.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memperkirakan penguatan rupiah masih akan berlanjut pada pekan depan. Ini seiring meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah-langkah stabilisasi yang telah ditempuh pemerintah dan BI dalam beberapa waktu terakhir.
"Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp 17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," ujar Fakhrul, dalam keterangan resminya kepada investortrust.id.
Fakhrul menjelaskan bahwa selama beberapa bulan terakhir rupiah mengalami tekanan yang cukup besar akibat kombinasi faktor eksternal dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan domestik. Namun, sebagian besar faktor tersebut kini mulai menunjukkan perbaikan.
Menurut Fakhrul, terdapat tiga langkah penting yang saat ini menjadi fondasi penguatan rupiah.
Pertama, BI telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 75 basis poin. Langkah tersebut memberikan sinyal yang jelas kepada pasar bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama dan membantu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia.
Baca Juga
Rupiah dan Mata Uang di Dunia Kompak Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS
Kedua, penyesuaian harga BBM khususnya Pertamax mulai memperbaiki persepsi pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Meskipun merupakan kebijakan yang tidak populer, langkah tersebut menunjukkan adanya keberanian pemerintah untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan guna menjaga keberlanjutan APBN.
Ketiga, adanya efisiensi dan penyesuaian anggaran pada sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP), mulai dibaca pasar sebagai sinyal bahwa disiplin fiskal kembali menjadi prioritas.
"Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah," ucap dia.
Selain faktor domestik, Fakhrul menilai perkembangan geopolitik global juga berpotensi memberikan tambahan momentum positif bagi rupiah. Menurutnya, membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya peluang tercapainya kesepakatan yang lebih permanen akan membantu menurunkan premi risiko global, memperbaiki sentimen pasar negara berkembang, serta mengurangi tekanan terhadap harga energi dunia.
Menurutnya, penguatan rupiah saat ini bukan semata-mata didorong oleh sentimen jangka pendek, melainkan mulai ditopang oleh perbaikan ekspektasi terhadap kebijakan ekonomi Indonesia.
