BI Rapat, Rupiah Lanjut Menguat terhadap Dolar hingga Yen
JAKARTA, investortrust.id - Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) tengah rapat bulanan, rupiah pun lanjut menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan valas Selasa (18/03/2025) pagi . Mata uang Garuda juga menguat terhadap hard currrentcies yang lain, seperti euro hingga yen Jepang.
Berdasarkan data Yahoo Finance, nilai tukar rupiah menguat 16 poin atau 0,10% pada pukul 09.07 WIB ke level Rp 16.379 per dolar AS. Namun, secara year to date, mata uang Garuda masih terdepresiasi terhadap greenback 1,82%.
Yang menarik, penguatan rupiah ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS. DXY ini mencatat nilai tukar greenback terhadap 6 hard currrentcies yang lain.
"AS baru saja merilis peningkatan data US retail sales. Di pasar saham, hal itu juga mendorong indeks utama bursa AS ditutup menguat Senin waktu setempat," kata pengamat pasar modal Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (18/03/2025).
Baca Juga
Jelang Dewan Gubernur BI Rapat Rupiah Menguat, Bunga Diharapkan Turun
Terapresiasi terhadap Euro
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah juga menguat 16 poin atau 0,09% terhadap euro, ke level Rp 17.881. Namun, secara year to date, rupiah masih terdepresiasi terhadap mata uang mayoritas negara yang bergabung dalam Uni Eropa itu, mencapai 7,27%.
Rupiah juga terapresiasi 0,28 poin atau 0,25% terhadap yen, ke level Rp 109,55. Sedangkan secara year to date, masih terdepresiasi 6,93%.
Baca Juga
Peningkatan Ekspor Didorong Industri, Minyak Sawit Melonjak 58,35%
Sentiemen Surplus Perdagangan RI
Selain di tengah kondisi Bank Indonesia yang tengah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Maret, sentimen positif dari dalam negeri dinilai datang dari neraca perdagangan RI yang masih surplus pada Februari, kendati angkanya menurun.
BPS kemarin merilis, neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Februari 2025 sebesar US$ 3,21 miliar. Surplus ini lebih rendah dibandingkan Januari 2025.
“Pada Februari 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$ 3,21 miliar atau turun US$ 0,83 miliar secara bulanan. Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 58 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (17/03/2025).
Amalia mengatakan, surplus itu ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 4,84 miliar. Komoditas penyumbang utamanya, antara lain, lemak dan minyak hewan/nabati (terutama minyak sawit), bahan bakar mineral (terutama batu bara), serta besi dan baja.
“Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$ 1,72 miliar. Ini berasal dari defisit hasil minyak maupun minyak mentah,” kata dia.
Hal yang menggembirakan, peningkatan ekspor Februari 2025 secara bulanan didorong industri pengolahan. Bahkan, ekspor minyak sawit melonjak 58,35% month to month.
"Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara bulanan utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan, senilai US$ 17,65 miliar dari total ekspor nonmigas US$ 20,84 miliar. Nilai ekspor industri pengolahan naik 3,17% pada Februari 2025 (month to month), dengan andil peningkatan sebesar 2,53%," kata Amalia.
Dari total ekspor nonmigas, kontributor terbesar kedua adalah ekspor pertambangan senilai US$ 2,63 miliar, yang terkontraksi 3,41% mtm. Kontributor ketiga atau terakhir adalah ekspor pertanian sebesar US$ 0,56 miliar, yang tumbuh 3,06% mtm.
"Di sektor nonmigas ini, ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya tercatat menembus US$ 2,27 miliar pada Februari 2025. Ekspor mtm naik 58,35%, bahkan secara year to date melonjak 89,54%," paparnya.
Menanti Rapat The Fed
Pelaku pasar kini mencermati serangkaian rapat bank sentral utama dunia yang meeting pada pekan ini. Salah satunya Bank Sentral AS The Fed.
The Fed hampir dipastikan tidak akan mengubah suku bunga acuan (Fed Funds Rate) -- yang masih sebesar 4,25-4,50% -- kali ini. Sementara itu, suku bunga acuan Bank Indonesia juga masih ditahan sebesar 5,75%.
Ketua The Fed Jerome Powell diperkirakan akan mempertimbangkan data-data terbaru di ekonomi terbesar dunia itu, baik dari sisi tenaga kerja, inflasi, manufaktur, maupun pertumbuhan ekonomi. "Di sisi lain, bila data makro AS yang belakangan ini mulai ada yang melambat (berlanjut), bisa saja ruang pemangkasan suku bunga akan terbuka dan persentasenya pun akan besar," ujar Analis PT Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin sebelumnya.

