Rupiah Melemah ke Rp 17.873, Dolar AS dan Risiko Inflasi Membayangi
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Rupiah turun 0,07% ke level Rp17.873 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB.
Sebaliknya indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) rebound pesat sebanyak 60 poin (0,99%) menjadi 6.330 hingga pukul 09.40 WIB. Kenaikan ditopang penguatan seluruh sektor saham, khususnya big cap.
Baca Juga
IHSG Melesat 50 Poin dalam 10 Menit Transaksi, Saham Ini Torehkan Cuan Jumbo
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia. Berdasarkan data Bloomberg, yen Jepang melemah 0,05%, yuan China turun 0,01%, rupee India melemah 0,15%, dolar Singapura turun 0,16%, dan baht Thailand melemah 0,06%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mencatat indeks dolar AS (DXY) naik tipis 0,02% menjadi 99,83. Investor masih berhati-hati menjelang rilis data inflasi konsumen atau CPI AS untuk Juli. Inflasi inti AS diperkirakan melandai menjadi 3,4% secara tahunan, dari sebelumnya 3,5%. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan moderat menjadi 2,5% secara tahunan.
Data CPI AS Jadi Perhatian Pasar
Andry mengatakan rilis data CPI akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan prospek kebijakan The Fed pada September. Data payrolls Juli yang lemah sebelumnya telah mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut. Namun, tekanan inflasi yang kembali meningkat akibat kenaikan harga energi berpotensi menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Dengan kondisi tersebut, pasar suku bunga masih terbagi antara ekspektasi suku bunga tetap dan kenaikan suku bunga pada September. Selain kebijakan moneter AS, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan di Timur Tengah dan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun Rp 30.000 Jadi Rp 2,68 Juta per Gram
Optimisme terhadap tercapainya kesepakatan AS-Iran dalam waktu dekat mulai memudar. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi harga energi.
Harga minyak mentah Brent kembali meningkat dan ditutup pada US$88,91 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut membuat risiko inflasi yang didorong oleh kenaikan harga energi tetap tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah di tengah penguatan dolar AS dan perhatian pasar terhadap arah kebijakan The Fed.

