Harga Minyak Naik Lebih 1%, Risiko Pasokan Timur Tengah Masih Membayangi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan hari ini seiring pasar tetap mencermati risiko pasokan global, meskipun peluang terjadinya serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran mulai mereda. Kenaikan harga mencerminkan kehati-hatian investor terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah yang masih menyisakan ketidakpastian.
Minyak mentah Brent naik 84 sen atau 1,3% menjadi US$64,60 per barel pada perdagangan Jumat sore (16/1/2026), dan berada di jalur penguatan mingguan keempat secara berturut-turut. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 80 sen atau 1,4% ke level US$59,99 per barel. Dengan posisi tersebut, Brent berpotensi mencatat kenaikan mingguan sekitar 2%, sedangkan WTI diperkirakan naik sekitar 1,4%.
Pada titik tertinggi intraday, harga Brent sempat melonjak lebih dari US$1 per barel. Penguatan ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. UBS mencatat bahwa sentimen risiko belum sepenuhnya menghilang. “Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memang mereda, tapi belum lenyap sama sekali, dan pelaku pasar masih khawatir dengan potensi disurupsi suplai," kata analis UBS Giovanni Staunovo dikutip RTE, Sabtu (17/1/2026).
Kedua kontrak acuan minyak tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada pekan ini, menyusul merebaknya aksi protes di Iran serta sinyal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan serangan militer. Namun, harga minyak terkoreksi lebih dari 4% pada perdagangan kemarin setelah Trump menyatakan bahwa penindakan pemerintah Iran terhadap para pengunjuk rasa mulai mereda, sehingga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat konflik militer ikut menurun.
Meski demikian, risiko geopolitik masih membayangi pasar. Analis Commerzbank menyoroti kekhawatiran utama pelaku pasar terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz oleh Iran jika eskalasi konflik terjadi. “Yang paling dikhawatirkan adalah kemungkinan Iran memblokade Selat Hormuz jika terjadi eskalasi, jalur yang dilalui sekitar seperempat pasokan minyak dunia yang diangkut melalui laut,” tulis analis Commerzbank dalam catatan risetnya.
Baca Juga
Mereka juga menambahkan bahwa apabila terdapat tanda-tanda pelonggaran ketegangan yang berkelanjutan, perhatian pasar kemungkinan akan kembali tertuju pada perkembangan di Venezuela. Dalam skenario tersebut, minyak yang sebelumnya terkena sanksi atau terhambat distribusinya berpotensi kembali mengalir secara bertahap ke pasar global.
Di sisi lain, sejumlah analis memperkirakan pasokan minyak global akan meningkat sepanjang tahun ini, sehingga berpotensi membatasi kenaikan harga yang dipicu oleh faktor geopolitik. Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva. menilai keseimbangan pasar masih menunjukkan kondisi pasokan yang relatif longgar.
Ia menambahkan bahwa tanpa adanya pemulihan signifikan permintaan dari China atau gangguan nyata pada aliran fisik minyak, pergerakan harga cenderung terbatas. “Kecuali kita melihat kebangkitan nyata permintaan dari China atau hambatan signifikan dalam aliran fisik minyak, harga minyak cenderung bergerak dalam kisaran, dengan Brent umumnya berada di antara US$57 hingga US$67,” ujarnya.

