Kurang Pasokan di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Harga Minyak Naik
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah berjangka Brent pada Rabu (3/7/2024) naik tipis 47 sen dolar Amerika Serikat atau 0,5%, ke posisi US$ 86,71 per barel pada 0330 GMT. Angka ini menyentuh level tertinggi dalam 10 minggu belakangan.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 43 sen atau 0,5% ke level US$ 83,24 per barel. Angka itu tidak terlalu jauh dari level tertinggi dua bulan yang dicapai awal pekan ini.
Dilansir Reuters Rabu (3/7/2024), kenaikan harga minyak ini setelah data industri menunjukkan adanya penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS), yang lebih besar dari perkiraan. Sementara itu, pasar terus memantau ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Menurut Pusat Badai Nasional AS, kedua benchmark harga minyak tersebut ditutup lebih rendah pada Selasa (2/7/2024), karena memudarnya kekhawatiran bahwa Badai Beryl akan mengganggu produksi di Teluk Meksiko. Badai ini diperkirakan sudah melemah menjadi badai tropis, saat memasuki Teluk Meksiko akhir pekan ini.
“Setelah memperoleh gain sebelumnya karena kekhawatiran gangguan pasokan akibat Badai Beryl, mungkin ada beberapa pelonggaran karena kejelasan yang lebih besar mengarah pada potensi dampak yang terbatas,” kata ahli strategi pasar di IG, Yeap Jun Rong.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 43 sen atau 0,5% ke level US$ 83,24 per barel. Angka itu tidak terlalu jauh dari level tertinggi dua bulan yang dicapai awal pekan ini.
Dilansir Reuters Rabu (3/7/2024), kenaikan harga minyak ini setelah data industri menunjukkan adanya penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS), yang lebih besar dari perkiraan. Sementara itu, pasar terus memantau ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Menurut Pusat Badai Nasional AS, kedua benchmark harga minyak tersebut ditutup lebih rendah pada Selasa (2/7/2024), karena memudarnya kekhawatiran bahwa Badai Beryl akan mengganggu produksi di Teluk Meksiko. Badai ini diperkirakan sudah melemah menjadi badai tropis, saat memasuki Teluk Meksiko akhir pekan ini.
“Setelah memperoleh gain sebelumnya karena kekhawatiran gangguan pasokan akibat Badai Beryl, mungkin ada beberapa pelonggaran karena kejelasan yang lebih besar mengarah pada potensi dampak yang terbatas,” kata ahli strategi pasar di IG, Yeap Jun Rong.
Baca Juga
Permintaan Bensin AS akan Naik
Meski demikian, Yeap bilang, penurunan persediaan minyak mentah AS secara signifikan memberikan dukungan terhadap harga, di tengah ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Selain itu, menurut sumber yang mengutip angka American Petroleum Institute pada Selasa (2/7/2024), persediaan minyak mentah AS turun 9,163 juta barel dalam pekan yang berakhir 28 Juni 2024. Namun, persediaan bensin naik 2,468 juta barel, dan persediaan sulingan turun 740.000 barel.
Analis dalam jajak pendapat Reuters memproyeksikan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 700.000 barel, penurunan stok bensin sebesar 1,3 juta barel, dan penurunan stok sulingan sebesar 1,2 juta barel. “Harga minyak didukung oleh penurunan persediaan minyak mentah AS, namun kenaikannya terbatas karena beberapa investor masih mencari profit dari reli baru-baru ini yang mencapai level tertinggi sejak April,” kata analis di Fujitomi Securities, Mitsuru Muraishi.
Permintaan bensin di AS juga diperkirakan akan meningkat, seiring dengan dimulainya musim perjalanan musim panas bersamaan dengan libur Hari Kemerdekaan minggu ini. American Automobile Association memperkirakan perjalanan selama periode liburan akan meningkat 5,2% dibandingkan tahun 2023, dengan perjalanan mobil naik 4,8%.
Sementara itu, Badan Informasi Energi (EIA), badan statistik Departemen Energi AS, akan merilis data mingguannya pada hari Rabu pukul 14.30 WIB nanti.
Meski demikian, Yeap bilang, penurunan persediaan minyak mentah AS secara signifikan memberikan dukungan terhadap harga, di tengah ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Selain itu, menurut sumber yang mengutip angka American Petroleum Institute pada Selasa (2/7/2024), persediaan minyak mentah AS turun 9,163 juta barel dalam pekan yang berakhir 28 Juni 2024. Namun, persediaan bensin naik 2,468 juta barel, dan persediaan sulingan turun 740.000 barel.
Analis dalam jajak pendapat Reuters memproyeksikan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 700.000 barel, penurunan stok bensin sebesar 1,3 juta barel, dan penurunan stok sulingan sebesar 1,2 juta barel. “Harga minyak didukung oleh penurunan persediaan minyak mentah AS, namun kenaikannya terbatas karena beberapa investor masih mencari profit dari reli baru-baru ini yang mencapai level tertinggi sejak April,” kata analis di Fujitomi Securities, Mitsuru Muraishi.
Baca Juga
2 Hal Ini Dikhawatirkan Bakal Gerus Nilai Tambah Ekonomi Hilirisasi Nikel
Permintaan bensin di AS juga diperkirakan akan meningkat, seiring dengan dimulainya musim perjalanan musim panas bersamaan dengan libur Hari Kemerdekaan minggu ini. American Automobile Association memperkirakan perjalanan selama periode liburan akan meningkat 5,2% dibandingkan tahun 2023, dengan perjalanan mobil naik 4,8%.
Sementara itu, Badan Informasi Energi (EIA), badan statistik Departemen Energi AS, akan merilis data mingguannya pada hari Rabu pukul 14.30 WIB nanti.

