Harga Minyak Naik Imbas Ketegangan Timur Tengah, tapi Dampak ke RI Terbatas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pemerintah terus memantau pergerakan harga energi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, dia menilai dampaknya terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan masih terbatas selama tidak terjadi gangguan besar pada rantai pasok minyak dunia.
Susiwijono menjelaskan pemerintah terus mencermati pergerakan harga energi. Ia mencatat harga minyak mentah acuan dunia, seperti Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali bergerak naik imbas serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran.
Baca Juga
Dubes Iran Desak Negara Islam Kutuk Serangan Israel–AS ke Iran
“Kita masih monitor terus. Tadi pagi gas juga sempat bergerak, dan sampai siang (Selasa) harga minyak dunia, baik WTI maupun Brent, sudah agak naik ke atas,” ujar pria yang akrab disapa Susi ini dalam diskusi media bertema “How Can the Middle Class Build Resiliency in Economic Volatility” di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, faktor paling berpengaruh imbas eskalasi Timur Tengah dalam jangka pendek adalah dinamika harga energi. Namun, dalam konteks keseluruhan, dampaknya terhadap ekonomi domestik dinilai tidak terlalu signifikan. Hal itu karena struktur perdagangan Indonesia dengan kawasan Timur Tengah yang sedang bergejolak relatif kecil dan neraca perdagangan masih mencatat surplus.
"Nilai perdagangan Indonesia dengan kawasan Timur Tengah tidak terlalu besar, berkisar 13%-14% dan secara total masih memberikan surplus bagi Indonesia," kata Susi.
Meski demikian, Susiwijono mengingatkan risiko terbesar muncul jika terjadi gangguan serius pada rantai pasok global, terutama bila jalur distribusi energi ,s seperti Selat Hormuz terganggu. “Yang paling penting nanti kalau terjadi gangguan rantai pasok global. Kalau jalur suplai betul-betul terganggu, pasti akan terjadi kenaikan harga minyak. Nah ini yang paling penting,” tegasnya.
Susi mengungkapkan, risiko global memang masih membayangi perekonomian Indonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, konflik Ukraina, serta dinamika hubungan Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus meningkatkan ketidakpastian. Kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) dan tren proteksionisme juga memicu fragmentasi ekonomi global dari sistem multilateral menjadi blok-blok perdagangan yang lebih kecil.
Baca Juga
Konsumsi Berkontribusi 54% ke PDB, Posisi Kelas Menengah Makin Krusial
Kondisi tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, Indonesia dinilai masih relatif tangguh. Di antara negara G20, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di peringkat kedua setelah India dan lebih tinggi dibandingkan China yang tumbuh sekitar 4,5%. "Probabilitas terjadinya resesi di Indonesia juga diperkirakan hanya sekitar 3%, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain," kata dia.
Dengan kombinasi ketahanan domestik, surplus perdagangan, serta stimulus fiskal yang tetap berjalan, pemerintah berharap konsumsi rumah tangga tetap kuat sehingga gejolak global tidak berujung pada perlambatan ekonomi yang lebih dalam.
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 8% pada Senin (2/3/2026). Pelaku pasar khawatir perang antara AS dan Iran akan lepas kendali dan menyebabkan gangguan pasokan besar-besaran. Minyak mentah AS naik 8,4% atau US$ 5,72 ditutup pada US$ 72,74 per barel, memperpanjang kenaikan setelah adanya laporan baru bahwa Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz. Patokan minyak global Brent melonjak 9% atau US$ 6,65 menjadi US$ 79,45.

