Bursa Asia Ikuti Irama Wall Street, tapi Risiko Konflik Iran Masih Membayangi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik menguat pada Selasa (7/4/2026), mengikuti penguatan Wall Street, di tengah sikap investor yang terus mencermati perkembangan konflik Iran-AS.
Pada sesi perdagangan reguler di pasar AS Senin, indeks S&P 500 naik 0,44%, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 0,54%. Dow Jones, indeks 30 saham unggulan, naik 165,21 poin, atau 0,36%.
Baca Juga
Wall Street Menguat, Harapan Deeskalasi Konflik Timur Tengah Dorong Sentimen Pasar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan sinyal beragam: di satu sisi mengancam serangan terhadap infrastruktur sipil Iran, namun di sisi lain menyatakan bahwa negosiasi berjalan serius.
Trump menetapkan tenggat waktu kurang dari 24 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran dalam waktu empat jam jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Namun di saat yang sama, proses diplomasi tetap berlangsung.
Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lima minggu. Iran menolak proposal gencatan senjata sementara dari AS dan mengajukan rencana 10 poinnya sendiri.
Proposal Iran mencakup penghentian permusuhan, jaminan jalur aman di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, serta rekonstruksi.
Trump menanggapi proposal tersebut dengan hati-hati. “Mereka membuat proposal yang signifikan, meski belum cukup,” ujarnya.
Di pasar energi, harga minyak terus naik. WTI naik sekitar 0,7% ke US$113,25 per barel, sementara Brent bertahan di kisaran US$109,77.
Baca Juga
Iran Belum Buka Selat Hormuz meski Diancam Trump, Harga Minyak Naik
Penguatan pasar saham terlihat luas di kawasan Asia. Dikutip dari CNBC, indeks S&P/ASX 200 Australia melonjak 2,3%, diikuti kenaikan Nikkei 225 sebesar 0,26% dan Kospi yang naik 1,5%.
Sementara itu, pasar Hong Kong tutup karena libur Paskah.
Kenaikan ini mencerminkan optimisme hati-hati investor bahwa konflik dapat mereda, meskipun risiko eskalasi masih tinggi.
Pasar global kini berada dalam posisi yang rapuh—ditarik antara ancaman militer dan peluang diplomasi.

