Ikuti Irama Wall Street, Pasar Asia Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Mengikuti irama Wall Street, pasar saham Asia Pasifik cenderung menguat pada perdagangan Kamis (6/06/2024).
Baca Juga
Cermati Data Inflasi Tiongkok, Pasar Asia Mayoritas Terkoreksi
Saham-saham di Hong Kong dan Tiongkok daratan naik pada pembukaan, begitu juga saham-saham di Jepang.
Di AS, kontrak berjangka ekuitas menguat setelah S&P 500 mencatatkan rekor penutupannya yang ke-25 tahun ini.
Investor mempertimbangkan data terbaru yang menyoroti perlambatan ekonomi AS. Wall Street reli ditopang saham teknologi. Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi baru.
Patokan Jepang Nikkei 225 naik 0,9% di awal perdagangan menjadi 38,841.66. Kospi Korea Selatan menguat 0,7% menjadi 2.681,11. Hang Seng Hong Kong bertambah 0,8% menjadi 18,577.58, sedangkan Shanghai Composite naik 0,1% menjadi 3,069.44.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 55 poin (0,78%) menjadi 7.002. IHSG rebound setelah dua hari anjlok ke level terendah baru sepanjang 2024.
Para analis menyebutkan data mengenai pertumbuhan upah di Jepang akan menjadi lebih jelas setelah hasil negosiasi perburuhan musim semi baru-baru ini mulai berlaku. Itu berarti Bank of Japan kemungkinan besar akan menaikkan suku bunganya.
Pasar AS biasanya menjadi kiblat pasar global. Indeks S&P 500 mencetak rekor baru, naik 1,18% menjadi 5,354.03. S&P 500 juga mencapai level tertinggi intraday baru sepanjang masa di 5,354.16. Pencapaian baru ini terjadi setelah indeks mengalami kelesuan selama beberapa minggu.
Nasdaq Composite naik 1,96% menjadi 17,187.90, juga merupakan rekor baru, karena saham Nvidia melonjak. Dow Jones Industrial Average bertambah 96,04 poin, atau 0,25%, untuk menyelesaikan sesi pada 38,807.33.
Gejolak terjadi di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) Treasury merosot setelah sebuah laporan menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Amerika mengiklankan lebih sedikit lowongan pekerjaan pada akhir bulan April dibandingkan perkiraan para ekonom. ADP menyebut pertumbuhan penggajian awasta AS bulan Mei melambat.
Wall Street sebenarnya menginginkan pasar kerja dan perekonomian secara keseluruhan melambat untuk mengendalikan inflasi dan meyakinkan Federal Reserve agar segera menurunkan suku bunga. Hal ini akan mengurangi tekanan pada pasar keuangan. Para trader meningkatkan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga pada akhir tahun ini menyusul laporan tersebut, menurut data dari CME Group.
Risikonya adalah perekonomian mungkin melampaui batas dan berakhir dalam resesi yang menyakitkan. Hal ini akan menyebabkan PHK bagi pekerja di seluruh negeri dan melemahkan keuntungan perusahaan, sehingga menurunkan harga saham.
Pasar hampir sepenuhnya memperkirakan dua penurunan suku bunga Federal Reserve pada tahun 2024. Dolar melemah karena penurunan suku bunga di Kanada, meningkatkan fokus pada jalur kebijakan dari Federal Reserve. Yen pulih dari aksi jual dalam minggu yang bergejolak karena perannya dalam carry trade di pasar negara berkembang.
Saham berjangka India menguat setelah Perdana Menteri India Narendra Modi memperoleh dukungan penting dari dua sekutu utama dalam koalisinya, sehingga memungkinkan dia untuk membentuk pemerintahan dan memperpanjang masa kekuasaannya.
Analis memperkirakan pasar Asia akan didukung oleh rekor tertinggi baru yang terlihat pada indeks-indeks utama AS semalam. Sentimen juga akan menjadi positif karena guncangan pemilu India melemah.
Baca Juga
Wall Street Reli Ditopang Saham Teknologi, S&P 500 Capai Rekor Tertinggi Sepanjang Masak

