Rupiah Tembus Rp 17.846 per Dolar AS, Sinyal Kerentanan Struktural yang Membayangi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kedigdayaan rupiah runtuh pada Kamis sore (28/5/2026). Mata Uang Garuda berada di posisi Rp 17.846 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,25%. Beberapa warganet telah membuat tangkapan layar, menandai posisi rupiah pada Rp 17.485 per dolar AS, cerminan Hari Kemerdekaan RI.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan menjelaskan situasi yang terjadi saat ini mencerminkan adanya jarak. Jarak yang Sutopo maksud yaitu antara data fundamental masa lalu, lagging indicator, yang diklaim baik oleh pemerintah dengan ekspektasi arus likuiditas pada masa depan atau forward looking yang digerakkan oleh pasar global.
“Meskipun pertumbuhan ekonomi domestik tercatat solid, "isi perut" dari indikator tersebut mengalami kerentanan struktural yang memicu kekhawatiran investor,” ujar Sutopo kepada investortrust.id, Kamis (28/5/2026).
Baca Juga
Rupiah Mengalami Overshooting Dekati Rp18.000, Ekonom Desak Bauran Kebijakan Fiskal dan Moneter
Salah satu indikator yang jadi patokan Sutopo yaitu melebarnya defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit Indonesia. Pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan tercatat US$ 4 miliar atau 1,1% dari PDB. Angka ini naik sekitar 96,27% secara tahunan karena defisit transaksi berjalan sebesar US$ 0,149 miliar pada kuartal I-2025. Sementara itu, berdasarkan secara kuartal, defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 naik 60% secara kuartalan.
Sutopo mengatakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal I-2026 melebar tajam hingga mendekati level terdalam sejak pandemi. Ini terjadi akibat menyusutnya surplus perdagangan non-migas.
“Yang berarti pasokan dolar AS riil dari hasil ekspor ke dalam negeri memang berkurang drastis di saat belanja fiskal untuk program prioritas mulai berjalan,” kata dia.
Sutopo mengatakan pelemahan ini diperparah oleh siklus musiman kuartal II, yang tak terhindarkan, di mana permintaan korporasi terhadap dolar AS selalu mencapai puncaknya untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo dan repatriasi dividen ke negara asal pascamusim RUPS.
“Kebutuhan konvensional yang masif ini berbenturan langsung dengan kedigdayaan dolar AS global yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik baru antara AS dan Iran di Timur Tengah,” ucap dia.
Baca Juga
Walhasil, indeks Dolar AS (DXY) meroket mendekati level tertinggi dalam tujuh pekan di area 99 karena pelaku pasar global kembali memburu aset aman atau safe haven.
Dalam peta makro ini, langkah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5.25% pada pertengahan Mei kemarin sebenarnya merupakan langkah defensif yang tepat, namun belum cukup kuat untuk memicu penguatan instan.
Dengan tingkat pengembalian obligasi AS atau US Treasury 10 tahun yang bertahan tinggi di kisaran 4.47% hingga 4.7% akibat ekspektasi suku bunga the Fed yang higher-for-longer. Ini menjadi insentif bagi investor asing untuk bertahan di pasar keuangan domestik menjadi berkurang sehingga memicu capital outflow.
“Pada akhirnya, hukum likuiditas harian di pasar valas selalu memenangkan momentum jangka pendek dibandingkan dengan narasi fundamental yang statis, memaksa rupiah tetap berada di bawah tekanan besar,” kata dia.

