Payroll AS Lampaui Ekspektasi, tapi Sinyal Pelemahan Ekonomi Mulai Membayangi
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat kembali melampaui ekspektasi pasar pada April, namun sejumlah indikator menunjukkan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum dan berpotensi mengalami perlambatan lebih dalam pada tahun ini.
Departemen Tenaga Kerja AS Jumat (8/5/2026) melaporkan, payroll nonpertanian (nonfarm payrolls) bertambah 115.000 pekerjaan pada April secara musiman, lebih tinggi dibanding ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 55.000 pekerjaan.
Baca Juga
Klaim Pengangguran AS Bertambah 44.000, Lonjakan Terbesar dalam 4,5 Tahun
Meski demikian, angka tersebut turun dibanding penciptaan 185.000 lapangan kerja pada Maret yang sebelumnya tergolong sangat kuat.
Tingkat pengangguran bertahan di level 4,3%, menandakan pasar tenaga kerja AS kini berada pada fase di mana pertumbuhan pekerjaan moderat sudah cukup menjaga stabilitas tingkat pengangguran, terutama karena pertumbuhan angkatan kerja yang melambat.
Di sisi lain, pertumbuhan upah menunjukkan pelemahan. Rata-rata upah per jam hanya naik 0,2% secara bulanan dan 3,6% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan pasar masing-masing sebesar 0,3% dan 3,8%.
Laporan tersebut juga menunjukkan penurunan jumlah angkatan kerja serta pelemahan perekrutan di sektor teknologi, di tengah kondisi “low-hire low-fire” yang berlangsung sejak awal 2025.
Baca Juga
Payroll AS Melonjak di Atas Ekspektasi, tapi Pasar Tenaga Kerja Masih Rapuh
Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan pasar tenaga kerja sejauh ini relatif stabil, meskipun belum menunjukkan kekuatan signifikan.
“Pasar tenaga kerja stabil selama sekitar satu hingga satu setengah tahun terakhir. Tingkat pengangguran, perekrutan, PHK, dan lowongan pekerjaan semuanya relatif stabil,” ujarnya kepada CNBC.
Pasar saham AS dibuka sedikit menguat setelah data dirilis, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS turun.
Chief investment strategist Brown Brothers Harriman, Scott Clemons, menilai laporan tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi AS di tengah berbagai tekanan geopolitik dan inflasi.
Namun ia mengingatkan bahwa satu bulan data positif belum cukup untuk membentuk tren baru.
“Jika ada dua atau tiga bulan tambahan dengan penciptaan kerja solid, maka keyakinan pasar akan lebih kuat,” ujarnya.
Secara sektoral, layanan kesehatan memimpin penciptaan lapangan kerja dengan tambahan 37.000 posisi. Sektor transportasi dan pergudangan menambah 30.000 pekerjaan, ritel naik 22.000, dan bantuan sosial bertambah 17.000.
Sebaliknya, sektor layanan informasi kehilangan 13.000 pekerjaan. Sejak November 2022, sektor tersebut telah kehilangan 342.000 pekerjaan atau sekitar 11% dari total tenaga kerja, bertepatan dengan ekspansi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Indikator pengangguran yang lebih luas, termasuk pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi, naik menjadi 8,2%. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga turun ke 61,8%, level terendah sejak Oktober 2021.
Jumlah pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi melonjak 445.000 menjadi 4,9 juta orang.
Ekonom senior Allianz untuk Amerika Utara, Dan North, mengatakan data ketenagakerjaan memang belum menunjukkan keruntuhan pasar tenaga kerja, tetapi tetap mengarah pada perlambatan.
Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan bagi Federal Reserve yang kini menghadapi perbedaan pandangan internal terkait arah kebijakan moneter.
Pekan lalu, bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan melalui voting 8 banding 4, jumlah dissent vote tertinggi sejak 1992.
Kebijakan The Fed juga semakin rumit akibat perang Iran dan kebijakan tarif perdagangan AS. Pasar kini memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi sepanjang tahun seiring inflasi yang masih membandel dan pasar tenaga kerja yang tetap tangguh.

