Kuartal III 2026, Dunia Usaha Tahan Ekspansi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Dunia usaha diperkirakan memasuki kuartal III-2026 dengan sikap lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Aktivitas bisnis dan investasi diproyeksikan melemah setelah perbaikan pada kuartal II belum mampu membentuk momentum pertumbuhan yang kuat dan merata di seluruh sektor ekonomi.
Prospek tersebut disampaikan dalam laporan Regular Economic Update: Laporan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia Kuartal II-2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026. Laporan itu menunjukkan bahwa dunia usaha masih menghadapi tekanan dari kondisi ekonomi global yang diliputi ketidakpastian. Perlambatan perdagangan dunia, tingginya suku bunga, serta meningkatnya risiko geopolitik membuat perusahaan semakin selektif dalam mengambil keputusan investasi.
Di dalam negeri, pemulihan aktivitas ekonomi juga belum berlangsung merata. Dorongan pertumbuhan masih banyak berasal dari sektor yang berkaitan dengan program pemerintah, pembangunan infrastruktur, pertambangan, dan komoditas. Sementara itu, sektor yang lebih bergantung pada produksi, distribusi, dan permintaan domestik belum memperlihatkan akselerasi yang kuat.
Utilisasi kapasitas produksi pada kuartal II-2026 meningkat menjadi 73,8% dari 73,3% pada kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan aktivitas produksi mulai membaik, terutama ditopang sektor agrikultur dan pertambangan. Namun, tingkat utilisasi tersebut masih berada di bawah rata-rata prapandemi periode 2017-2019 sebesar 76,1%. Kondisi ini menunjukkan kapasitas produksi nasional belum kembali optimal dan pemulihan permintaan belum cukup kuat untuk mendorong peningkatan produksi secara lebih agresif.
Aktivitas bisnis dunia usaha pada kuartal II-2026 tetap berada di zona positif. Akan tetapi, tambahan kenaikannya menjadi yang paling rendah dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan kegiatan usaha berlangsung terbatas dan belum mencerminkan ekspansi yang solid.
Penguatan terutama ditopang sektor konstruksi, administrasi pemerintahan, dan pertambangan. Pola tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi masih sangat bergantung pada program pemerintah, proyek infrastruktur, serta sektor berbasis komoditas.
Sebaliknya, manufaktur, perdagangan, transportasi, dan pergudangan mengalami pelemahan. Perlambatan pada sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa ekspansi sektor swasta masih berlangsung hati-hati, terutama di tengah permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga
PMI Indonesia 51,43%, Industri Pengolahan Tetap Ekspansif pada Kuartal II-2026
Kondisi pasar tenaga kerja juga belum menunjukkan perbaikan berarti. Penggunaan tenaga kerja turun menjadi 0,1% secara saldo bersih tertimbang atau SBT pada kuartal II-2026 dari 0,3% SBT pada kuartal sebelumnya.
Meskipun masih berada di zona positif, angka tersebut menunjukkan penambahan tenaga kerja berlangsung hampir stagnan. Perbaikan terutama terjadi pada sektor pertambangan, informasi dan komunikasi, serta konstruksi.
Sementara itu, pelemahan penggunaan tenaga kerja terjadi pada administrasi pemerintahan, perdagangan, transportasi, dan pergudangan. Sektor manufaktur juga masih mencatatkan pengurangan tenaga kerja.
Pemulihan pasar kerja yang belum merata berpotensi membatasi peningkatan pendapatan masyarakat. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat menahan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari sisi investasi, pelaku usaha masih melanjutkan ekspansi, tetapi dalam skala terbatas. Indeks investasi meningkat tipis menjadi 5,5% SBT pada kuartal II-2026 dari 5,4% SBT pada kuartal sebelumnya.
Perbaikan investasi terjadi pada 11 dari 17 sektor usaha, terutama manufaktur, pertambangan, dan konstruksi. Penguatan pada sektor-sektor tersebut menunjukkan belanja modal mulai diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, aktivitas berbasis komoditas, serta pembangunan infrastruktur.
Namun, investasi melemah pada sektor agrikultur, perdagangan, transportasi, dan pergudangan. Perbedaan arah tersebut memperlihatkan optimisme investasi masih bersifat selektif dan belum cukup luas untuk menghasilkan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Laporan BRI juga menunjukkan bahwa hambatan investasi mulai mengalami pergeseran. Keluhan pelaku usaha terhadap perizinan, regulasi, perpajakan, ketenagakerjaan, dan akses kredit bank cenderung menurun. Sebaliknya, suku bunga kini menjadi kendala utama investasi. Biaya pembiayaan yang tinggi mulai melampaui persoalan perizinan sebagai hambatan terbesar bagi pelaku usaha.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah pembiayaan tidak lagi terutama terletak pada ketersediaan kredit, melainkan pada keterjangkauan biaya dana. Dunia usaha semakin sensitif terhadap tingginya bunga pinjaman dalam menentukan keputusan ekspansi.
Baca Juga
Hilirisasi Menjadi Daya Tarik Investasi, FDI Kuartal II 2026 Melonjak 27,4%
Tekanan juga terlihat pada kondisi keuangan perusahaan. Indikator likuiditas turun menjadi 15,0% saldo bersih pada kuartal II-2026 dari 17,0% pada kuartal sebelumnya. Pada saat yang sama, rentabilitas atau kemampuan perusahaan menghasilkan laba melemah lebih dalam menjadi 11,9% dari 14,9%. Meskipun kedua indikator masih berada di zona positif, penurunannya menunjukkan bantalan keuangan dunia usaha mulai menipis.
Melemahnya rentabilitas menunjukkan tekanan lebih dahulu dirasakan pada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Apabila berlanjut, kondisi ini dapat memengaruhi arus kas dan mempersempit kemampuan perusahaan membiayai ekspansi dari dana internal.
Tekanan tersebut diperkirakan membuat dunia usaha semakin berhati-hati pada kuartal III-2026. Ekspektasi aktivitas bisnis turun menjadi 11,8% SBT dari 14,8% pada kuartal sebelumnya.
Ekspektasi investasi juga menurun menjadi sekitar 5,3% SBT, level terendah dalam satu tahun terakhir. Penurunan ini menunjukkan pelaku usaha semakin konservatif dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.
Di sisi lain, penggunaan tenaga kerja diperkirakan meningkat menjadi 1,0% SBT pada kuartal III-2026 dari 0,6% pada kuartal sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut dinilai belum mencerminkan ekspansi perekrutan yang luas.
Peningkatan kebutuhan tenaga kerja kemungkinan hanya terjadi pada sektor tertentu atau merupakan realisasi perekrutan yang sempat tertunda. Karena itu, kenaikan tenaga kerja belum tentu sejalan dengan penguatan aktivitas bisnis secara keseluruhan.
Secara sektoral, prospek ekspansi pada kuartal III-2026 diperkirakan semakin terbatas. Sebanyak 12 dari 17 sektor usaha diproyeksikan kehilangan momentum.
Penguatan aktivitas bisnis hanya diperkirakan terjadi pada manufaktur, perdagangan, listrik dan gas, serta administrasi pemerintahan. Jasa perusahaan juga diproyeksikan membaik, tetapi berangkat dari basis yang relatif rendah.
Sektor agrikultur diperkirakan mengalami pelemahan cukup luas. Seluruh subsektornya diproyeksikan kehilangan momentum, dengan tanaman pangan mengalami koreksi paling dalam hingga berpotensi masuk zona kontraksi.
Perkebunan diperkirakan menjadi penopang utama sektor agrikultur, disusul hortikultura, peternakan, dan perikanan. Namun, perlambatan jasa pertanian dan kehutanan membuat basis ekspansi sektor tersebut semakin sempit.
Prospek manufaktur relatif lebih baik, meskipun belum merata. Penguatan diperkirakan terjadi pada industri alat angkutan, galian nonlogam, logam dasar, dan mesin.
Industri makanan dan minuman masih menjadi penopang utama manufaktur dengan nilai SBT yang relatif tinggi. Namun, subsektor tersebut diperkirakan melambat bersama industri karet, kimia, kertas, kayu, dan furnitur.
Baca Juga
Dominasi industri makanan dan minuman dalam struktur manufaktur membuat perlambatan pada subsektor tersebut berpotensi menahan penguatan manufaktur secara agregat, meskipun beberapa industri berbasis logam dan barang modal mulai membaik.
Perkembangan tersebut memiliki implikasi langsung terhadap industri perbankan nasional. Pertumbuhan kredit tetap perlu didorong untuk menopang aktivitas ekonomi, tetapi penyalurannya harus dilakukan secara selektif.
Perbankan perlu memprioritaskan sektor-sektor yang masih memiliki prospek pertumbuhan, arus kas kuat, dan kemampuan membayar yang terjaga. Pada saat yang sama, disiplin terhadap kualitas aset perlu diperkuat karena likuiditas dan rentabilitas dunia usaha mulai melemah.
Bank juga perlu memperkuat penghimpunan dana masyarakat untuk menjaga kapasitas pembiayaan. Penguatan funding menjadi penting agar ekspansi kredit tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap likuiditas perbankan.
Dengan kondisi dunia usaha yang memasuki fase lebih hati-hati, tantangan perbankan pada kuartal III-2026 bukan sekadar meningkatkan pertumbuhan kredit. Tantangan utamanya adalah menyalurkan pembiayaan secara tepat sasaran tanpa mengorbankan kualitas aset dan ketahanan likuiditas.
Laporan Office of Chief Economist Group BRI tersebut menegaskan bahwa ekspansi ekonomi masih berlanjut, tetapi belum cukup kuat dan merata. Kuartal III-2026 akan menjadi periode ketika dunia usaha lebih banyak menjaga operasional, mengendalikan biaya, dan menyeleksi investasi dibandingkan melakukan ekspansi besar-besaran.
