Survei BRI: Kegiatan Usaha Tetap Ekspansif Meski Melambat di Kuartal III 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Tim Ekonom Grup PPM BRI menunjukkan bahwa kegiatan usaha di Indonesia masih berada dalam zona ekspansif pada kuartal III 2025, meski laju pertumbuhannya melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan terutama terjadi pada lapangan usaha transportasi, properti, dan jasa perusahaan.
Mayoritas lapangan usaha tercatat mengalami peningkatan utilisasi kapasitas produksi, terutama pada sektor pengadaan listrik dan gas. Selain itu, realisasi investasi juga tumbuh positif, dipimpin oleh sektor pertanian. Namun, investasi di lapangan usaha pertambangan mengalami koreksi yang cukup dalam.
Dari sisi profitabilitas, marjin usaha secara umum meningkat hingga paruh kedua 2025, terutama pada sektor akomodasi serta makanan dan minuman. Sebaliknya, marjin di sektor pengadaan air dan pengelolaan limbah tercatat melemah.
Tekanan harga produsen juga mulai melemah, sementara ekspektasi inflasi tetap terjaga, memberi sinyal bahwa stabilitas harga dapat mendorong pembiayaan usaha yang lebih kondusif.
Menurut Tim Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang terdiri dari Anton Hendranata (kepala ekonom), Ramadani Partama, Fadli Jihad Dahana Setiawan, dan Arini Nurkusumawati kondisi ini memberikan peluang strategis bagi sektor perbankan untuk memperkuat perannya dalam pembiayaan produktif.
Peningkatan utilisasi kapasitas produksi dan sentimen investasi yang positif menjadi momentum bagi bank untuk menyalurkan kredit modal kerja dan investasi, terutama ke sektor-sektor yang menunjukkan ekspansi, seperti energi dan infrastruktur dasar.
Selain itu, bank diimbau menerapkan strategi penyaluran kredit selektif, dengan fokus pada sektor yang memiliki fundamental kuat dan potensi profitabilitas tinggi. Pendekatan ini penting untuk menjaga kualitas kredit sekaligus mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Baca Juga
Ray Dalio Sebut Kondisi Ekonomi Global Saat Ini Mirip 1970-an, Ini Sarannya buat Investor
Kondisi inflasi yang terkendali dan melemahnya tekanan harga produsen juga membuka ruang bagi perbankan untuk meningkatkan kredit di sektor produktif berisiko rendah, seiring dengan stabilisasi harga dan permintaan di pasar domestik.
Hasil SKDU yang dilakukan oleh Tim Ekonom BRI mengindikasikan bahwa kegiatan usaha di Indonesia masih berada dalam zona ekspansif. Tren ini tercermin dari penurunan skor Saldo Bersih Tertimbang (SBT) menjadi 11,55% pada kuartal III 2025, sedikit lebih rendah dari 11,70% pada kuartal II 2025. Meski demikian, mayoritas lapangan usaha masih menunjukkan ekspansi, menandakan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga.
Pergerakan ekspansi ini memperlihatkan keberlanjutan optimisme pelaku usaha di tengah kondisi ekonomi global yang masih berfluktuasi.
“Pelaku usaha masih menilai prospek usaha cukup positif hingga akhir tahun, meskipun ada tekanan dari sisi biaya produksi dan ketidakpastian eksternal. Peningkatan utilisasi kapasitas produksi menjadi salah satu indikator kuat bahwa dunia usaha masih solid,” tulis Tim Ekonom BRI dalam risetnya dikutip Selasa (21/10/2025).
Penopang Utama
Berdasarkan lapangan usaha, seluruh sektor masih berada dalam zona ekspansif sepanjang kuartal III 2025. Penguatan terutama dicatat pada lapangan usaha Jasa Keuangan (SBT 2,20%), Manufaktur (1,61%), dan Konstruksi (1,12%). Sebaliknya, sembilan sektor lainnya menunjukkan perlambatan ekspansi, termasuk Transportasi (0,06%), Properti (0,20%), dan Jasa Perusahaan (0,20%).
Berdasarkan lapangan usaha (LU), seluruh sektor masih berada dalam zona ekspansif pada Q3-2025. Penguatan paling tinggi terjadi pada Jasa Keuangan (SBT 2,20%), diikuti oleh Manufaktur (1,61%) dan Konstruksi (1,12%). Sementara itu, sembilan lapangan usaha lainnya mencatat perlambatan ekspansi, terutama pada Transportasi (0,06%), Properti (0,20%), dan Jasa Perusahaan (0,20%).
“Sebagian besar sektor masih dalam fase ekspansi, namun perlambatan di sektor transportasi dan properti menunjukkan adanya penyesuaian terhadap kondisi permintaan dan biaya operasional,” tulis BRI dalam analisisnya.
Di sisi lain, hasil survei juga menunjukkan peningkatan kapasitas produksi terpakai, dari 73,58% pada kuartal II 2025 menjadi 73,84% pada kuartal III 2025. Mayoritas lapangan usaha mencatat kenaikan utilisasi, menandakan permintaan yang mulai pulih dan kesiapan industri untuk meningkatkan output.
Kapasitas utilisasi tertinggi tercatat pada Pengadaan Listrik dan Gas (81,29%), diikuti Pengadaan Air dan Pengelolaan Limbah (74,99%), dan Pertambangan (70,81%). Sementara itu, sektor Pertanian (71,65%) menunjukkan penurunan utilisasi akibat faktor musiman dan fluktuasi harga komoditas.
Menurut Tim Ekonom BRI, peningkatan utilisasi kapasitas ini menjadi sinyal positif bagi dunia perbankan. “Kenaikan utilisasi produksi memberi peluang bagi bank untuk memperluas pembiayaan modal kerja dan investasi, terutama pada sektor energi, infrastruktur dasar, dan industri manufaktur,” jelas tim ekonom.
Baca Juga
Dukung Asta Cita melalui Program 3 Juta Rumah, BRI Perluas Akses Kredit Program Perumahan
Momentum Kredit Produktif
BRI menilai, sektor perbankan dapat memanfaatkan momentum ekspansi dunia usaha dengan menyalurkan kredit secara selektif dan terarah. Beberapa poin penting bagi industri perbankan antara lain:
- Mendorong kredit modal kerja dan investasi di sektor dengan utilisasi tinggi dan potensi ekspansi berkelanjutan.
- Menjaga kualitas portofolio kredit dengan fokus pada sektor berisiko rendah namun produktif, seperti energi dan infrastruktur.
- Memanfaatkan tekanan harga produsen yang melemah untuk meningkatkan pembiayaan produktif dengan profil risiko yang lebih terkendali.
Kondisi inflasi yang stabil serta ekspektasi positif terhadap pertumbuhan investasi dinilai dapat mendukung iklim pembiayaan yang lebih kondusif menjelang akhir tahun.
Responden memperkirakan rata-rata inflasi tahun 2025 berada di level 2,73% (year on year), masih berada dalam kisaran sasaran inflasi BI sebesar 2,5% ± 1%.
“Penurunan tekanan harga produsen ini mencerminkan keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran yang semakin stabil. Hal ini memberi ruang bagi dunia usaha untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga daya saing harga,” tulis laporan tersebut.
Bank Indonesia dan pelaku industri menilai kondisi ini berpotensi mendorong penyaluran pembiayaan yang lebih sehat. Dengan inflasi yang terkendali dan tekanan biaya produksi menurun, profil risiko kredit perbankan relatif lebih rendah, terutama di sektor-sektor produktif yang menunjukkan stabilitas harga dan permintaan.
Ekonom BRI menilai, lingkungan inflasi yang stabil menjadi katalis penting bagi akselerasi kredit modal kerja dan investasi pada paruh akhir tahun ini. “Kondisi ini membuka peluang bagi perbankan untuk memperkuat dukungan pada sektor riil, khususnya industri berorientasi ekspor, energi, dan pangan yang membutuhkan pembiayaan untuk ekspansi kapasitas,” tulis Tim Ekonomi BRI.
Optimisme Jelang 2026
Secara keseluruhan, survei menunjukkan dunia usaha Indonesia tetap tangguh dan adaptif terhadap tekanan global. Dengan peningkatan kapasitas produksi dan stabilnya iklim investasi, sektor keuangan dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat peran dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, sinergi antara sektor perbankan dan pelaku usaha menjadi kunci untuk mempertahankan ekspansi dan memperkuat ketahanan ekonomi di tahun 2026.

