Kemenperin Tegaskan Data BPS Valid, Sektor Manufaktur Tetap Ekspansif di Kuartal II-2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa kinerja industri manufaktur nasional masih kuat dan ekspansif pada triwulan II-2025. Pernyataan ini membantah anggapan bahwa data pertumbuhan industri dari Badan Pusat Statistik (BPS) bertentangan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) versi S&P Global.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa data BPS tervalidasi oleh sejumlah indikator utama seperti Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI). Keduanya menunjukkan bahwa sektor manufaktur terus berada di atas level 50 selama kuartal II, menandakan kondisi ekspansif.
Baca Juga
Impor Bahan Baku Naik di Semester I-2025, Mendag: Sinyal Pemulihan Industri Manufaktur
“Belanja modal sektor manufaktur juga meningkat. Jadi, data BPS sejalan dengan indikator lain yang kredibel,” ujar Febri dalam keterangannya, Kamis (7/8/2025).
BPS mencatat pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,60% (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,12%. Kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional juga naik dari 16,72% menjadi 16,92% pada periode yang sama.
IKI Juli 2025 turut menunjukkan optimisme pelaku usaha, dengan capaian 52,89, naik dari 51,84 pada bulan sebelumnya, dan lebih tinggi dibandingkan Juli 2024 (52,40). Hal ini menegaskan daya tahan industri RI di tengah tekanan ekonomi global dari AS, Eropa, Jepang, hingga Tiongkok.
Baca Juga
Tanpa Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%, Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana
Febri juga menambahkan bahwa Kemenperin tidak menjadikan PMI S&P Global sebagai dasar kebijakan, melainkan fokus pada IKI dan PMI BI yang memiliki cakupan dan representasi lebih luas. “IKI mencakup 3.100 perusahaan setiap bulan dari 23 subsektor, jauh lebih representatif dibanding PMI S&P Global yang hanya 500 responden,” jelasnya.
IKI dinilai lebih komprehensif karena menghimpun data primer terkait produksi, ekspor, tenaga kerja, kapasitas industri, hingga ekspektasi bisnis pelaku industri, sehingga dinilai paling relevan dalam penyusunan kebijakan industri nasional.

