PMI Sektor Manufaktur Dunia masih Melemah, Sebaliknya Sektor Jasa Ekspansif
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan sektor manufaktur dunai masih melemah. Hal ini terlihat dari Purchasing Manager’s Index (PMI) sektor manufaktur global berada di angka 49,5.
“Artinya secara overall secara global, kegiatan sektor manufaktur, dalam posisi kontraktif. Meskipun untuk PMI jasa masih ekspansif tinggi,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers APBN edisi September 2024, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/9/2024).
Di berbagai negara, dia mengatakan, PMI Manufaktur mengalami kontraksi. PMI Manufaktur Indonesia berada di angka 48,9. Angka tersebut masih lebih tingggi dibandingkan PMI Amerika Serikat (AS) tercatat di angka 48. “Sementara, China berada di atas, tapi sangat tipis di atas 50” kata dia.
Baca Juga
APBN Catatkan Defisit Rp 153,7 Triliun hingga Akhir Agustus 2024
Sebaliknya PMI sektor jasa, menurut Bendahara Negara ini, berada di zona ekspansif. Ini menunjukkan perekonomian dunia mengalami transformasi.
“Di mana sektor jasa, terutama dengan adanya sektor digital technology akan lebih memberikan peranan hampir di pertumbuhan ekonomi negara,” kata dia.
Sri Mulyani mengatakan, sebanyak 54,2% negara mengalami kontraksi PMI Manufaktur. Beberapa negara yang mengalami kontraksi PMI manufaktur, yaitu Amerika Serikat (AS), Eropa, Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Indonesia, Malaysia, Kanada, Meksiko, Afrika Selatan, Turki, dan Australia. Sedangkan, hanya 45,8% yang positif, seperti Inggris, China, Korea Selatan, India, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, Arab Saudi, Brasil, dan Rusia.
Komoditas Tertekan
Sri Mulyani juga mengatakan bahwa harga komoditas mengalami tekanan. Dirinya mengungkap harga minyak Brent sebesar US$ 74,5 per barrel. “Meskipun terjadi geopolitical tension dan perang di Timur Tengah. Biasanya harga minyak naik, tapi karena ada penurunan permintaan, jadi harga komoditas melemah,” ujar dia.
Baca Juga
Mendag Zulhas Sebut Impor Ilegal dan Pabrik Tua Jadi Penyebab PMI Manufaktur Terkontraksi
Harga komoditas batubara masih berada di level US$ 137,3 per metrik ton. “Ini artinya year on year kontraksi 28,8%. Hal ini akan membuat penerimaan dari wajib badan akan terkontraksi dari sisi pembayaran pajaknya.
Komoditas gas alam juga menjadi sorotan. Bendahara Negara menyebut harga gas alam sebesar US$ 2,3 per mmbtu dengan koreksi 26,9% secara tahunan. Sedangkan CPO mencatatkan penurunan tipis dari US$ 954,4 per ton atau mengalami penurunan 0,3% secara tahunan. Sementara itu, harga beras mengalami kontraksi 0,2% secara tahunan.
“Kita sebagai konsumen beras mendapatkan sentiment positif, karena harga komoditas pangan bisa dikendalikan,” ujar dia.

