BI Catat PMI Manufaktur Kuartal IV-2025 Masih Terjadi Ekspansi, 3 Subsektor Lapangan Usaha Kontraksi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat adanya fase ekspansif atas kinerja lapangan usaha industri pengolahan pada kuartal IV-2025. Prompt Manufacturing Index (PMI) BI tercatat di posisi 51,86%.
“Ini lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 51,66%” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Senin (19/1/2026).
Denny menjelaskan, dari komponen pembentuknya, peningkatan PMI-BI terdorong ekspansi volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan.
Volume produksi tercatat sebesar 53,46%, sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal III-2025 yang sebesar 53,62%. Terjaganya volume produksi ini disinyalir sejalan dengan masih terjaganya permintaan masyarakat.
“Volume produksi kuartal I-2026 diprakirakan meningkat dengan indeks sebesar 54,82%” bunyi laporan PMI-BI tersebut.
Terjaganya permintaan masyarakat pada kuartal IV-2025 terlihat pada volume total pesanan yang sebesar 53,31%. Angkat tersebut lebih tinggi dari volume pesanan pada kuartal III-2026 yang sebesar 52,82%. Pada kuartal I-2026, komponen volume total pesanan diperkirakan terakselerasi dengan indeks sebesar 55,05%.
Volume persediaan barang jadi, berdasarkan catatan PMI-BI, terindikasi ekspansif di angka 53,46%, lebih tinggi dari kuartal sebesar 52,68%. Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan volume total pesanan. Persediaan barang jadi diperkirakan berlanjut hingga kuartal I-2026 yang meningkat sebesar 54,22%.
BI juga mencatat adanya adanya kontraksi pada komponen pembentuk PMI-BI. Kontraksi terlihat di kecepatan penerimaan barang input yang berada di angka 49,32%, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di angka 49,35%.
Kontraksi juga terlihat di jumlah tenaga kerja. Komponen ini mencatatkan perbaikan indeks sebesar 48,8%, naik dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 48,7%, berada di zona kontraksi.
Baca Juga
Kejar Target Pertumbuhan Manufaktur 5,51%, Menperin: 1.236 Perusahaan Siap Produksi Perdana
Berdasarkan sublapangan usaha, sebagian besar berada di fase ekspansif. Indeks tertinggi tercatat pada industri kertas dan barang dari kertas, percetakan, dan reproduksi media rekaman dengan besaran 56,71%, industri barang galian bukan logam sebesar 54,33%, serta industri makanan dan minuman 54,06%.
“Kemudian, industri furnitur serta industri tekstil dan pakaian jadi yang meningkat dengan indeks masing-masing sebesar 52,35% dan 50,19%, dari 43,88% dan 48,29%” bunyi laporan tersebut.
Meski demikian, terdapat tiga subsektor industri yang mengalami kontraksi. Industri kayu, barang dari kayu, gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya mengalami kontraksi sebesar 49,91%, industri karet, barang dari karet dan plastik terkontraksi 46,72%, dan industri alat angkutan yang terkontraksi 49,69%.
Pada kuartal I-2026, BI memproyeksikan sejumlah sublapangan usaha diperkirakan akan tetap ekspansif dengan indeks tertinggi dari industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, industri furnitur, industri logam dasar, dan industri makanan dan minuman.

