Tiga Bulan Beruntun PMI Manufaktur Indonesia di Level Kontraksi, Begini Kata Ketum Kadin Anindya Bakrie
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menilai Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada pada level kontraksi selama tiga bulan beruntun bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan.
Menurut Anin, kondisi PMI Manufaktur Indonesia dalam tiga bulan terakhir berkaitan dengan transisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin ke Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie Apresiasi Kinerja Menko Perekonomian
"Beberapa bulan terakhir ini adalah transisi pemerintahan dan tahun ini adalah tahun politik, sehingga banyak (investor) yang memilih wait and see," kata Anindya Bakrie ketika ditemui usai acara Sarasehan Bersama Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu (2/10/2024).
Anin menegaskan, keputusan pemerintahan Prabowo-Gibran yang akan melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya merupakan angin segar bagi pelaku usaha di Tanah Air, khususnya anggota Kadin Indonesia.
Anin menilai kebijakan pemerintahan Jokowi-Ma'ruf amin berpihak kepada seluruh elemen masyarakat, tak terkecuali pelaku usaha.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya N Bakrie Bertemu Menko Airlangga, Bahas Kontribusi Kadin untuk Pemerintahan Baru
"Kebijakan (pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin sudah pro bisnis, pro rakyat, dan pro foreign direct investment (investasi asing langsung) yang menjadi mesin untuk meningkatkan belanja masyarakat dan pemerintah," tutur dia.
Lembaga pemeringkat Standard & Poor's Global Ratings (S&P) merilis data terkini PMI Manufaktur Indonesia. Pada September 2024, PMI Manufaktur Indonesia masih berada di zona kontraksi di angka 49,2.
Dengan demikian, selama tiga bulan berturut-turut atau sejak Juli 2024, PMI Manufaktur Indonesia berada di bawah ambang batas ekspansi 50. Pada Juli dan Agustus 2024, PMI Manufaktur Indonesia masing-masing tercatat di angka 49,3 dan 48,9.

