Camino de Flores: 70 Tahun Dr Mari Pangestu, 70 Kilometer untuk Kebangkitan Pariwisata Flores
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Dr Mari Elka Pangestu memilih memaknai perayaan ulang tahunnya yang ke-70 melalui perjalanan yang mempertemukan rasa syukur, perenungan, dan kepedulian kepada sesama. Melalui Camino de Flores, ia bersama sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan berjalan kaki sekitar 70 kilometer di Flores, Nusa Tenggara Timur, dalam rangkaian kegiatan pada 23–27 Oktober 2026.
Perjalanan tersebut menghubungkan kawasan Bajawa di Kabupaten Ngada, Nagekeo, hingga Ende. Gereja, tempat doa, kampung adat, pusat pendidikan, dan bentang alam menjadi bagian dari jalur yang dilalui. Di sepanjang perjalanan, peserta akan berjumpa dengan masyarakat, mengenal tradisi setempat, serta mengambil bagian dalam kegiatan sosial untuk mendukung pemulihan Flores pascagempa.
Mengusung nama Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores—A Spiritual Journey of Reflection and Recovery, kegiatan ini membawa semangat yang dirangkum dalam buku panduan sebagai “70 Years of Life, 70 KM to Give Back”. Tujuh puluh tahun kehidupan dimaknai melalui sekitar 70 kilometer perjalanan untuk berbagi dan memberikan kembali manfaat kepada masyarakat.
Mari Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011–2014, menjadi inisiator perjalanan tersebut. Ia melihat Flores memiliki perpaduan kekayaan spiritual, keindahan alam, sejarah, dan kebudayaan yang memungkinkan pengembangan jalur wisata berjalan kaki dengan pengalaman yang mendalam.
“Saya berpikir Indonesia bisa punya Camino-nya sendiri, dan Flores adalah tempat yang sempurna untuk itu. Camino de Flores mengadaptasi semangat Camino de Santiago untuk Flores sebagai wisata spiritual yang juga berkelanjutan, yang memadukan spiritualitas, alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Sebuah perjalanan wisata berjalan kaki menelusuri jalur situs-situs religi yang menggabungkan unsur spiritual, ekonomi kreatif, juga aspek budaya,” kata Mari dalam peluncuran kegiatan di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Inspirasi tersebut berasal dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol, jalur ziarah bersejarah yang menarik peziarah dari berbagai negara. Semangat berjalan, merenung, dan menemukan makna melalui perjumpaan sepanjang perjalanan diadaptasi dengan kekhasan Flores. Desa-desa, gereja, tradisi masyarakat, dan lanskap pulau ini menjadi unsur utama pengalaman yang ditawarkan.
Bagi Mari, berjalan kaki memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal suatu tempat secara lebih dekat. Pengunjung memiliki waktu untuk memperhatikan lingkungan, berbincang dengan warga, menikmati makanan setempat, dan memahami kehidupan masyarakat yang sering terlewat dalam perjalanan singkat.
“Melalui konsep yang kita kembangkan, yaitu wisata berjalan kaki melewati berbagai keindahan alam, budaya, dan situs-situs religi, diharapkan memberikan pengalaman yang berbeda dan lebih mendalam. Diharapkan wisatawan tinggal lebih lama dan tentu perputaran ekonomi terjadi langsung di desa-desa yang dilalui. Inilah pariwisata yang inklusif, yang berbasis masyarakat, dan yang berkelanjutan,” ujar Mari.
Kementerian Pariwisata menempatkan inisiatif ini sebagai peluang untuk memperluas persebaran wisatawan sekaligus mendukung pemulihan Flores. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, manfaat pariwisata perlu menjangkau lebih banyak masyarakat dan wilayah, dengan menghubungkan daya tarik yang selama ini berkembang di berbagai bagian pulau tersebut.
“Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan atau travel pattern baru yang strategis, mengingat kunjungan wisatawan selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo,” kata Widiyanti dalam konferensi pers peluncuran di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
Melalui jalur tersebut, kunjungan diharapkan lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores. Potensi yang dihubungkan mencakup situs religi, desa wisata, lanskap alam, serta kegiatan dan ritual yang telah berkembang di masyarakat, seperti Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, dan prosesi budaya lainnya.
Kemenpar bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores atau BPOLBF menetapkan kegiatan 23–27 Oktober 2026 sebagai proyek percontohan Etape Tengah. Dalam keterangan peluncuran, koridor perjalanan diperkenalkan sebagai Bajawa–Boawae–Ende. Buku panduan peserta merinci rangkaian kegiatan melalui sejumlah lokasi di Ngada, Nagekeo, dan Ende, dengan kombinasi berjalan kaki dan perpindahan menggunakan kendaraan.
Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif akan mengikuti perjalanan yang memadukan refleksi spiritual, sejarah, dan interaksi dengan masyarakat tersebut. Empat hari pertama diisi rangkaian perjalanan dan kegiatan bersama, sedangkan hari kelima dijadwalkan untuk kepulangan.
Camino de Flores menyasar segmen wisata khusus, antara lain komunitas peziarah atau faith-based community dan wisatawan yang mencari ketenangan melalui mindfulness tourism. Meski agenda Etape Tengah memuat misa, devosi, dan kunjungan ke situs Katolik, konsep pengembangannya juga menawarkan daya tarik bagi orang dengan beragam latar belakang yang ingin menikmati wisata jalan kaki, budaya, alam, dan refleksi pribadi.
Rute Perjalanan
Perjalanan dimulai pada Jumat, 23 Oktober 2026, tepat pada hari ulang tahun Mari Pangestu yang ke-70. Pembukaan acara ditandai oleh kedatangan peserta melalui Bandara So’a di Bajawa. Peserta kemudian menuju kawasan Wolowio untuk mengikuti misa pembukaan di Gua Maria atau Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio. Panorama perbukitan Ngada dan kawasan kebun kopi menjadi latar awal perjalanan.
Wolowio mengangkat tema The Call to Pilgrimage, panggilan menjadi peziarah. Peserta diajak memulai perjalanan dengan doa dan kesediaan membuka diri terhadap pengalaman baru. Dalam konteks perayaan 70 tahun Mari, langkah pembuka ini menjadi bagian dari ungkapan syukur yang diwujudkan melalui perjalanan bersama.
Seusai misa, peserta dijadwalkan mengikuti prosesi devosi Bunda Maria menuju Kampung Adat Beiposo. Buku panduan merangkum jarak berjalan pada hari pertama sekitar 2,2 kilometer. Kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan, makan malam bersama masyarakat, pentas seni, dan ramah tamah sebelum peserta beristirahat di Bajawa.
Pertemuan dengan masyarakat menjadi unsur penting sejak hari pertama. Makanan lokal, kesenian, kerajinan, dan keramahan warga dihadirkan sebagai bagian dari pengalaman. Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh kesempatan mengenal Flores dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, peserta memasuki rangkaian perjalanan sekitar 28 kilometer. Kegiatan diawali dengan misa pagi di Gereja Mater Boni Consili atau MBC Bajawa, dilanjutkan sarapan, pengarahan, dan doa pelepasan. Jalur hari kedua menghubungkan Bajawa, Langa, Kampung Adat Bena, Rakateda, dan Kemah Tabor Mataloko.
Langa menjadi titik perhentian untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Materi perencanaan turut memperkenalkan kawasan ini sebagai salah satu tempat untuk mengenal tenun ikat. Keterampilan menenun menghubungkan kegiatan wisata dengan pengetahuan budaya serta sumber penghidupan masyarakat.
Kampung Adat Bena menjadi salah satu tujuan utama. Deretan rumah adat dan peninggalan megalitik menghadirkan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Ngada, hubungan dengan leluhur, serta tradisi yang terus dipelihara. Peserta dijadwalkan menikmati makan siang dan kunjungan budaya sebelum melanjutkan perjalanan.
Bena membawa tema Faith Rooted in Culture, iman yang berakar dalam budaya. Persinggahan ini memberikan ruang untuk memahami pertemuan kehidupan religius dengan adat dan nilai-nilai masyarakat Flores. Pengalaman tersebut memperkaya perjalanan rohani melalui pengenalan terhadap kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Rangkaian hari kedua berakhir di Kemah Tabor Mataloko, tempat retret dan rekoleksi yang menyediakan suasana untuk beristirahat, berdoa, dan melakukan refleksi. Mataloko juga menjadi tempat perjumpaan dengan komunitas seminari, yang memperkenalkan peran pendidikan dalam perkembangan kehidupan gereja dan masyarakat Flores.
Materi perencanaan memuat kegiatan Green Action berupa penanaman bambu bersama mitra Kampus Bambu Turetogo, serta makan malam, pentas seni, dan kebersamaan dengan komunitas seminari. Agenda karitatif dikaitkan dengan dukungan pendidikan calon imam. Melalui kegiatan tersebut, perenungan pribadi dihubungkan dengan pelayanan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pada Minggu, 25 Oktober 2026, peserta melanjutkan perjalanan dari Kemah Tabor menuju Rowa dan Paroki Gako. Setelah beristirahat di Rowa, peserta meneruskan perjalanan untuk makan siang, bertemu umat, dan mengikuti devosi bersama di Gako. Materi kegiatan juga memasukkan dukungan penataan Gua Maria sebagai bagian dari agenda sosial.
Peserta selanjutnya menggunakan kendaraan menuju Nangaroro sebelum kembali berjalan kaki ke Nangapanda. Buku panduan merangkum keseluruhan jarak berjalan pada hari ketiga sekitar 30 kilometer. Peralihan dari kawasan dataran tinggi menuju pesisir menghadirkan bentang alam dan suasana kehidupan yang berbeda.
Di Nangapanda, peserta dijadwalkan mengikuti Jalan Salib bersama umat serta makan malam dan ramah tamah. Gereja Santo Eduardus dan taman doa setempat menjadi bagian penting kegiatan. Tema The Way of Compassion menempatkan belas kasih, ketekunan, solidaritas, dan pelayanan sebagai bahan permenungan.
Nangapanda juga diperkenalkan sebagai wilayah perjumpaan budaya Ngada–Nagekeo dengan Ende–Lio. Kehidupan masyarakatnya memberi konteks bagi peserta untuk memahami hubungan antarkomunitas dan keberagaman. Setelah kegiatan bersama umat, rombongan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan menuju Kota Ende untuk beristirahat.
Pada Senin, 26 Oktober 2026, perjalanan memasuki kawasan Taman Nasional Kelimutu. Peserta berangkat dari Ende pada pagi hari, kemudian berjalan menuju kawasan puncak untuk menikmati panorama tiga danau kawah serta melakukan refleksi.
Kelimutu membawa tema Hope Through Creation, harapan melalui ciptaan. Keindahan alam menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa syukur, memperbarui semangat, dan merenungkan tanggung jawab menjaga lingkungan. Pengalaman ini menghubungkan dimensi spiritual perjalanan dengan pelestarian alam Flores.
Dari Kelimutu, peserta melanjutkan perjalanan menuju Desa Wisata Waturaka sebagai titik akhir rangkaian jalan kaki. Penyambutan adat, acara penutupan perjalanan, makan siang bersama, dan atraksi budaya disiapkan untuk menyambut peserta. Waturaka menjadi tempat untuk merayakan selesainya perjalanan sekaligus memperkuat perjumpaan dengan masyarakat.
Peserta kemudian kembali ke Ende. Berdasarkan jadwal harian dalam buku panduan, misa penutupan dan jamuan malam direncanakan berlangsung di lingkungan Katedral Ende. Seluruh rangkaian diakhiri dengan kepulangan pada Selasa, 27 Oktober 2026, melalui Bandara H. Hasan Aroeboesman.
Materi perencanaan turut memuat pilihan pengenalan situs sejarah di Ende, termasuk Katedral Lama, lingkungan Keuskupan Agung Ende, Serambi Soekarno, Rumah Pengasingan Bung Karno, dan Taman Renungan Bung Karno. Pelaksanaannya mengikuti pengaturan waktu perjalanan. Unsur sejarah ini memperluas pengalaman peserta melalui pengenalan terhadap kehidupan gereja, pendidikan, dan pemikiran kebangsaan.
Untuk merekam perjalanan, peserta menggunakan Passport Camino. Buku kecil tersebut berfungsi sebagai identitas peziarah, catatan partisipasi, ruang refleksi, dan kenang-kenangan. Peserta dapat memperoleh stempel pada titik-titik yang ditetapkan panitia, antara lain Langa, Bena, Kemah Tabor Mataloko, Gako, Nangapanda, Kelimutu, dan Waturaka.
Paspor itu juga menyediakan tempat untuk mencatat hal yang disyukuri, pelajaran yang diperoleh, perjumpaan yang berkesan, dan perubahan yang ingin dilakukan setelah perjalanan. Sertifikat direncanakan diberikan kepada peserta yang memenuhi ketentuan penyelesaian kegiatan.
Di luar pengalaman peserta, kepedulian terhadap masyarakat menjadi tujuan penting Camino de Flores. Menurut keterangan Kemenpar, hasil penggalangan dana direncanakan untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata. Dukungan juga mencakup penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
Agenda tersebut memberikan bentuk konkret pada semangat berbagi dalam perayaan ulang tahun Mari. Perjalanan diharapkan dapat menghimpun perhatian dan sumber daya bagi kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkenalkan peluang untuk terus mendukung Flores setelah kegiatan berakhir.
Widiyanti mengapresiasi inisiatif Mari bersama tim. “Perjalanan ini tidak sekadar menawarkan keindahan alam, tetapi mengintegrasikan spiritualitas, budaya, sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam satu pengalaman yang bermakna,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, konsep perjalanan yang lebih lambat dan mendalam diharapkan memperpanjang masa tinggal wisatawan atau length of stay. Kebutuhan penginapan, makanan, transportasi, pemandu, dan produk lokal membuka peluang transaksi di desa-desa sepanjang jalur.
Pengelola homestay, UMKM, perajin tenun, pelaku kuliner, dan pemandu lokal menjadi bagian dari kelompok yang berpeluang memperoleh manfaat. Tenun ikat, misalnya, membawa identitas budaya dan nilai adat sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi keluarga, terutama perempuan penenun. Kuliner menghadirkan pengetahuan lokal dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Manfaat tersebut diharapkan berkembang seiring keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan perjalanan. Warga dapat berperan sebagai penyedia layanan, pemandu pengalaman budaya, pengelola destinasi, dan mitra dalam menjaga lingkungan. Keberlanjutan jalur akan bergantung pada kualitas pelayanan, pembagian manfaat, serta kemampuan mempertahankan karakter lokal.
Karena itu, Kemenpar menempatkan proyek percontohan sebagai sarana untuk menguji kesiapan teknis, operasional, dan kelembagaan. Pelaksanaan kegiatan akan digunakan untuk menilai kondisi jalur, kebutuhan pelayanan, partisipasi masyarakat, dan koordinasi para pihak.
“Kemenpar melalui Kedeputian Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur bersama BPOLBF telah menyusun dokumen Risk Assessment dan Emergency Response Plan yang detail. Kami memastikan kesiapan infrastruktur keselamatan dan keamanan, mulai dari penyiagaan road marshal, pos kesehatan, water station mobile, hingga mitigasi cuaca dan elevasi rute yang menantang,” kata Widiyanti.
Buku panduan juga memuat dukungan ambulans, tenaga medis, fisioterapi, dan titik istirahat. Peserta diminta menyiapkan kondisi fisik, menggunakan sepatu yang nyaman, membawa kebutuhan pribadi, menjaga kecukupan minum, serta mengikuti arahan petugas, terutama pada ruas yang bersinggungan dengan jalan umum.
Untuk memastikan keberlanjutan, Kemenpar mendorong tata kelola lintas wilayah dengan pembagian peran yang jelas. Kerja sama direncanakan melibatkan Kemenpar, BPOLBF, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende, keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal melalui mekanisme kerja sama atau nota kesepahaman.
Evaluasi proyek percontohan diharapkan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko. Hasilnya akan menjadi landasan pengembangan paket wisata berbasis spiritual yang dapat diperkenalkan kepada agen perjalanan dan operator tur.
Ke depan, Camino de Flores direncanakan berkembang melalui Etape Barat yang menghubungkan Labuan Bajo–Ruteng serta Etape Timur di koridor Maumere–Larantuka. Seluruh etape juga dimungkinkan untuk digabungkan sesuai permintaan dan kesiapan layanan.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai konsep Camino dapat menginspirasi pengembangan perjalanan serupa di wilayah lain dengan tetap bertumpu pada identitas masing-masing.
“Kita bisa buat Camino de NTT. Jadi di Flores buat sendiri, Timor buat sendiri, Sumba buat sendiri sesuai dengan daya tarik, cerita dan keunikan masing-masing,” ujar Emanuel.
Ia juga menekankan arti solidaritas yang dibawa kegiatan ini bagi pemulihan Flores. “Camino de Flores akan memberikan dampak yang nyata bagi kami di provinsi. Tema spiritualitas dan pemulihan di Flores ini sangat tepat dan menjadi momentum yang kuat buat kami di Flores ini untuk bisa bangkit kembali,” katanya.
Bagi Mari, perayaan 70 tahun melalui Camino de Flores membuka kesempatan untuk menghubungkan perjalanan pribadi dengan harapan masyarakat. Sekitar 70 kilometer yang ditempuh bersama menjadi ungkapan syukur sekaligus ajakan berbagi. Dari perbukitan Bajawa hingga Kelimutu dan Ende, perjalanan ini diharapkan meninggalkan manfaat yang terus tumbuh: dukungan bagi pemulihan, peluang usaha di desa, dan jalur wisata rohani yang dapat dinikmati lebih banyak orang pada masa mendatang.
