Mari Pangestu: Eskalasi Akibat Konflik Iran-Israel Diperkirakan Tak Meningkat
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom yang juga mantan Menteri Perdagangan dan mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu memperkirakan eskalasi ketegangan di Timur Tengah akibat serangan balasan Iran terhadap Israel pada Minggu (14/4/2024) tak akan meningkat, karena hampir semua negra di dunia tidak menginginkan konflik ini berlanjut.
Menurut Mari, kemungkinan peningkatan eskalasi ketegangan Iran-Israel perlu dianalisa lebih mendalam. Apalagi jika Israel melakukan serangan balasan lagi terhadap Iran, yang dipastikan akan memicu terjadinya polarisasi sejumlah negara yang akan memutuskan mendukung antara dua negara yang bertikai.
“Diperkirakan (peningkatan) eskalasinya rendah, karena tidak ada yang mau eskalasi itu terjadi, terutama Amerika Serikat (AS),” terangnya dalam sebuah diskusi virtual yang digelar oleh Perkumpulan Eisenhower Fellowships Indonesia, Senin (15/4/2024).
Peningkatan eskalasi ketegangan Iran-Israel, tentu akan sangat merugikan AS dari berbagai sisi, baik dari sisi resources dan lainnya. Apalagi tahun ini Negeri Paman Sam juga akan melakukan pemilihan umum (pemilu), yang tentunya secara langsung maupun tidak akan sangat memengaruhi kebijakan pemerintahnya. .
Baca Juga
Ada Konflik Iran-Israel, Kementerian ESDM Pastikan Harga BBM Tak Berubah hingga Juni
Dikatakan Mari, jika benar terjadi peningkatan eskalasi, maka akan terjadi gangguan pasokan resources yang sangat besar. Saat ini pun berbagai negara tengah berupaya mengamankan rute perdagangan internasional di Laut Merah (Red Sea), seiring dengan meningkatnya gangguan akibat konflik antara Palestina-Israel.
“Ini kaitannya dengan ekonomi yakni perdagangan internasional, karena rute Red Sea itu terganggu untuk perdagangan. Mereka sudah banyak mengeluarkan resources, mereka juga khawatir jika nanti harus terlibat dalam perang,” tuturnya.
Di sisi lain, harga minyak dunia juga akan meningkat. “Dampak ekonominya, yang jelas harga minyak akan meningkat bilamana terjadi eskalasi,” ujarnya
Menurutnya, sejak serangan Israel terhadap Konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April lalu yang menewaskan 16 orang termasuk dua jenderal dari Iran, harga minyak juga sudah sedikit meningkat menyusul para pelaku pasar minyak dunia yang mengantisipasi serangan balasan yang akan dilakukan oleh Iran.
“Sekarang dengan sudah adanya serangan, diperkirakan harga minyak akan naik dan inflasi juga akan meningkat,” kata Mari.

