Trump 2.0 Bisa Berdampak Buruk pada Inflasi Global, Ini Kata Analis
NEW YORK, investortrust.id - Masa jabatan presiden kedua bagi mantan Presiden Donald Trump dapat menyalakan kembali inflasi global. Kebijakan pertama yang diambil akan menaikkan biaya di seluruh dunia.
Baca Juga
Peluang Menang Trump Makin Besar Setelah Penembakan, Ini Kata Investor
Agenda ekonomi dengan tarif tinggi dan pajak rendah, yang menentukan masa jabatan pertama Trump – dan bersifat inflasi – akan lebih merugikan kali ini, kata para analis, seiring dengan “mindset inflasi” yang terus berlanjut.
“Ada risiko yang lebih besar bahwa kebijakan Trump akan lebih mendorong inflasi pada masa jabatan kedua dibandingkan pada masa jabatan pertama,” beber Michael Metcalfe, kepala strategi makro di State Street Global Markets, dalam acara “Squawk Box Europe” CNBC, Selasa (16/7/2024).
Inflasi yang lebih tinggi juga dapat meluas ke Asia, kata Gareth Nicholson dari Nomura dalam sebuah catatan kepada CNBC. Kepresidenan Trump akan menandai “faktor risiko negatif” secara keseluruhan untuk saham-saham Asia.
“Secara makro, hal ini akan menimbulkan inflasi bagi perekonomian global (bahkan mungkin stagflasi), dan akan mempercepat lebih banyak pergeseran rantai pasokan di Asia,” tulisnya. Ia menyebut, beberapa perusahaan telah mendiversifikasi produksi mereka untuk memitigasi dampaknya.
Di Eropa, Goldman Sachs memperkirakan dalam catatannya pada hari Jumat bahwa kepresidenan Trump dapat menambah kenaikan inflasi sebesar 0,1 poin persentase karena tarif yang lebih tinggi membebani perdagangan global.
Kampanye Trump untuk menjadi presiden tampaknya mendapatkan momentum pada hari Senin ketika ia tampil di Konvensi Nasional Partai Republik di Milwaukee, dua hari setelah selamat dari percobaan pembunuhan pada rapat umum di Pennsylvania.
Saham-saham AS melonjak pada hari Senin karena investor bereaksi terhadap membaiknya prospek calon presiden dari Partai Republik yang pro-bisnis. Namun, para analis memperingatkan hal itu kemungkinan hanya akan berlangsung singkat mengingat kekhawatiran atas agenda geopolitik proteksionisnya.
Baca Juga
Sentimen Positif Dongkrak Wall Street, Indeks Dow Melesat ke Rekor Tertinggi Baru

