IHSG Sempat Rontok 3,42%, Analis Kiwoom: Pertanda Buruk di Tengah Tekanan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok 3,42% atau 278 poin ke level 7.854 pada perdagangan sesi II, Jumat (17/10/2025). Koreksi tajam ini menandai tekanan kuat di akhir pekan setelah IHSG sempat menguat ke level tertinggi di atas 8.250. Sedangkan penutupan anjlok 209 poin (2,57%) ke 7.915 atau level terendah baru sejak 12 September.
Head of Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi Kasmarandana, menilai pelemahan IHSG dipicu kombinasi faktor eksternal dan aksi profit taking emiten konglomerasi.
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan Stimulus Ekonomi untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025
“Peningkatan kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat (AS) akibat government shutdown, tensi tarif dengan China, dan bubble AI menjadi salah satu pemicu utama pelemahan IHSG,” ujar Audi saat dihubungi, Jumat (17/10/2025).
Selain itu, ia menambahkan tekanan jual berasal dari aksi profit taking saham konglomerasi setelah reli panjang, serta outflow asing yang signifikan di saham perbankan. “Ketidakpastian yang meningkat mendorong pergeseran investasi ke aset safe haven dan low-risk,” jelasnya.
Audi menyebut tren kenaikan saham konglomerasi memang wajar karena didorong spekulasi seperti ekspansi emiten dan masuknya saham tertentu ke indeks global. “Begitu hype-nya selesai, investor mulai merealisasikan keuntungan karena valuasi sudah terlalu tinggi,” ujarnya.
Baca Juga
Meski IHSG Anjlok, Asing justru Net Buy Jumbo Rp 3,03 Triliun Borong Saham Ini
Menurut Audi, dominasi saham konglomerasi terhadap IHSG telah berlangsung dua tahun terakhir. Ia menyoroti nama-nama besar seperti Prajogo Pangestu, Happy Hapsoro, Hashim Djojohadikusumo, dan keluarga Bakrie yang sering menjadi penggerak sentimen pasar.
“Harusnya kalau konglomerasi naik, bank juga ikut naik sehingga IHSG lebih kuat. Sekarang kan justru konglomerasinya naik tapi bank turun,” ungkapnya.
Tekanan juga datang dari aksi jual bersih asing di sektor perbankan yang memiliki bobot besar di indeks. Kondisi tersebut membuat penguatan IHSG sebelumnya tidak diikuti saham-saham perbankan.
Baca Juga
Prabowo Kucurkan BLT Tambahan Senilai Rp 30 Triliun untuk 35 Juta Keluarga, Kapan Cair?
Audi menilai tanda-tanda pelemahan sudah terlihat sejak pekan lalu. “IHSG sempat all time high tapi volumenya di bawah rata-rata, itu sudah menunjukkan divergence negative, artinya harga naik tapi indikator seperti RSI dan MACD turun,” paparnya.
Secara teknikal, penutupan IHSG di bawah level psikologis 8.000 menjadi sinyal koreksi lanjutan. “Apalagi hari ini tutupnya di bawah 8.000. Itu sudah jadi bad sign, karena level 8.000 itu setara dengan MA200 IHSG,” tandas Audi.

