Tekanan Jual Mereda, Yield Obligasi AS 10-Tahun Turun ke 5,28%
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury menurun pada Selasa (6/10/2026). Lonjakan tajam pada sesi sebelumnya membawa yield obligasi tenor panjang ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Imbal hasil Treasury 10 tahun turun lebih dari 2 basis poin menjadi 5,286%. Sehari sebelumnya, yield Treasury 10-Y sempat menyentuh 5,349%, level tertinggi sejak April 2002.
Baca Juga
Imbal hasil Treasury 30 tahun juga turun kurang dari 1 basis poin menjadi 5,659%, setelah sebelumnya mencapai 5,703%, level tertinggi sejak Mei 2002.
Sementara itu, yield Treasury 2 tahun turun lebih dari 3 basis poin menjadi 4,80%.
Penurunan pada Selasa menunjukkan tekanan jual di pasar obligasi mulai mereda setelah lonjakan yield dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan yield sebelumnya dipicu kombinasi ekspektasi inflasi, ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Data Institute for Supply Management (ISM) yang dirilis Senin menunjukkan pertumbuhan sektor jasa AS sedikit melambat. Indeks aktivitas sektor jasa berada di 54,9 pada September, hampir sesuai ekspektasi tetapi sedikit lebih rendah dibandingkan Agustus.
Namun, komponen harga dalam indeks tersebut justru meningkat 1,4 poin menjadi 74. Rata-rata 12 bulan komponen harga tersebut mencapai level tertinggi sejak Maret 2023.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan aktivitas jasa sedikit melambat, tekanan harga masih menjadi perhatian.
Pasar Menanti Risalah The Fed
Perhatian investor kini beralih ke risalah rapat The Fed September yang akan dirilis Rabu.
Dokumen tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai perdebatan para pejabat bank sentral terkait prospek inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta arah suku bunga.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan sekitar 80% kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
“Pasar obligasi saat ini memberikan sinyal yang lebih penting dibandingkan pasar saham,” kata David Miller, chief investment officer Catalyst Funds, dikutip CNBC. Menurut dia, The Fed mengendalikan sisi pendek kurva imbal hasil, tetapi memiliki kendali jauh lebih kecil terhadap sisi panjang.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa yield obligasi jangka panjang dapat tetap tinggi meskipun The Fed menahan suku bunga acuannya.
Lisa Shalett, kepala investasi Morgan Stanley Wealth Management, mengatakan pasar obligasi telah mengalami volatilitas tinggi selama enam pekan terakhir.
Ia menyebut sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, termasuk kemungkinan perubahan kerangka kebijakan The Fed, pertumbuhan ekonomi, serta harga minyak yang tinggi di tengah berlanjutnya konflik Timur Tengah.
Meski volatilitas intraday meningkat, menurut Shalett, pergerakan pasar obligasi sejauh ini belum mencapai kondisi ekstrem seperti yang menjadi pemicu pasar bearish saham pada 2022.
