Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Tekanan Yield Obligasi Mereda
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (2/10/2026) WIB. Penguatan terjadi seiring penurunan imbal hasil (yield) US Treasury dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Indeks S&P 500 naik 0,19% dan ditutup pada 7.666,45. Indeks Nasdaq Composite menguat tipis 0,04% menjadi 26.871,60. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bertambah 20,51 poin atau 0,04% ke level 50.926,56.
Baca Juga
Yield Treasury AS 10-Y Turun Usai Sentuh Level Tertinggi dalam 24 Tahun
Pergerakan positif itu terjadi setelah pasar obligasi AS berbalik arah. Sebelumnya, yield Treasury tenor 10 tahun sempat melonjak hingga 5,344% pada perdagangan intraday, level tertinggi sejak 2002.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun juga sempat menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun, memperlihatkan tekanan yang semakin besar di pasar surat utang global.
CEO KKM Financial Jeff Kilburg menilai pasar obligasi mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah kenaikan yield yang berlangsung sangat cepat.
"Menurut saya, ada sedikit kelelahan di pasar obligasi. Yield naik 50 basis poin dalam 18 hari perdagangan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan sinyal di Jackson Hole bahwa kenaikan suku bunga memang akan terjadi," kata Kilburg.
Ia juga melihat adanya optimisme bahwa kenaikan yield hingga mencapai 5% hanya berlangsung sementara. Namun, optimisme tersebut sangat bergantung pada penyelesaian konflik antara AS dan Iran.
Menjelang perdagangan siang, yield Treasury mulai berbalik turun. Imbal hasil tenor 10 tahun terkoreksi 5 basis poin, sedangkan tenor 30 tahun turun 3 basis poin.
Penurunan lebih tajam terjadi pada obligasi jangka pendek. Yield Treasury tenor 2 tahun merosot 10 basis poin, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga.
Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan saham AS cenderung berlawanan dengan yield obligasi. Ketika yield turun, indeks saham cenderung menguat karena tekanan terhadap valuasi saham dan biaya pendanaan perusahaan berkurang.
Baca Juga
AS Disebut Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Minyak Brent Melonjak Lebih dari 4%
Namun, kenaikan harga minyak membatasi ruang penguatan pasar saham pada perdagangan kali ini.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% dan ditutup pada US$92,87 per barel. Pelaku pasar mencermati langkah Presiden AS Donald Trump berikutnya dalam konflik dengan Iran, termasuk kemungkinan menunda tindakan militer tambahan hingga pemilihan paruh waktu pada November.
Ketidakpastian geopolitik tersebut menjadi perhatian investor karena eskalasi konflik berpotensi mengganggu pasokan energi dan kembali mendorong inflasi.
Saham Micron Melonjak
Di tengah pergerakan pasar yang relatif terbatas, saham Micron Technology menjadi salah satu sorotan setelah perusahaan semikonduktor tersebut membukukan kinerja keuangan yang kuat.
Pendapatan Micron pada kuartal terakhir melonjak hingga empat kali lipat dibandingkan periode sebelumnya yang menjadi pembanding dalam laporan CNBC. Kinerja tersebut mendorong saham Micron (MU) naik 3% pada perdagangan Kamis.
Micron saat ini menikmati margin laba sebesar 87%, mencerminkan tingginya profitabilitas perusahaan di tengah permintaan pasar semikonduktor.
Namun, perusahaan berencana menaikkan kompensasi karyawan. Langkah tersebut berpotensi menekan margin keuntungan dibandingkan ekspektasi para analis di Wall Street.
CEO Micron Sanjay Mehrotra mengatakan perusahaan bangga dapat memberikan insentif kepada karyawan sejalan dengan pencapaian kinerja yang mencetak rekor.
"Kami sangat senang dan bangga dapat memberikan insentif kepada anggota tim kami sejalan dengan kinerja perusahaan yang mencetak rekor," ujar Mehrotra kepada CNBC, Kamis.
Kinerja Micron menjadi salah satu faktor yang menopang sentimen positif di pasar saham, meskipun investor masih menghadapi ketidakpastian terkait kebijakan moneter AS, kenaikan harga minyak, dan konflik geopolitik.
Pergerakan Wall Street pada awal Oktober memperlihatkan bagaimana perubahan yield obligasi, prospek suku bunga, serta kinerja emiten tetap menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar saham AS.
