Saham BBCA Menguat 3,65% Usai Tekanan Jual Asing Mereda, Analis Nilai Valuasi Murah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup menguat 3,65% ke level Rp7.800 pada perdagangan Rabu (10/9/2025). Kenaikan ini terjadi setelah tekanan jual investor asing yang sempat menekan saham berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia itu mulai mereda.
Sejak pembukaan di Rp7.550, saham BBCA sempat bergerak di kisaran Rp7.725–Rp7.750 sebelum akhirnya ditutup menguat. Pada akhir sesi, saham bank terbesar di Indonesia ini menjadi incaran investor dengan total volume mencapai 2,47 juta lot dan nilai transaksi Rp1,91 triliun. BBCA pun tercatat sebagai saham dengan top value di bursa hari ini.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas, Tiga Saham Dipimpin FILM Dijagokan Hari Ini
Tekanan jual asing turun signifikan dengan net foreign sell hanya Rp83 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai Rp2,1 triliun. Perubahan sentimen ini mendorong minat beli investor terhadap saham BBCA.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menilai penguatan BBCA mencerminkan respons pasar terhadap valuasi yang sudah lebih menarik. Menurutnya, price to book value (PBV) BBCA kini berada di kisaran 3,6–3,7 kali, lebih rendah dari rata-rata historis di atas 4 kali.
“Secara valuasi, BBCA saat ini tergolong murah. Level PBV 3,6–3,7 kali jarang terjadi untuk bank sekelas BBCA yang memiliki fundamental kuat. Investor melihat momentum untuk kembali melakukan akumulasi,” jelas Azis.
Baca Juga
Dari sisi fundamental, kinerja BBCA tetap solid. Hingga semester I-2025, perseroan menyalurkan kredit Rp959 triliun atau tumbuh 12,9% yoy, lebih tinggi dari rata-rata industri 7,3% yoy. Laba bersih tercatat Rp29 triliun, naik 8% yoy, ditopang pendapatan bunga Rp42,5 triliun dan non-bunga Rp13,7 triliun. Efisiensi juga terjaga dengan rasio beban terhadap pendapatan (CIR) membaik ke 29,1%.
Azis menambahkan, likuiditas BBCA relatif kuat di tengah ketatnya persaingan dana pihak ketiga. Loan to Deposit Ratio (LDR) terjaga pada kisaran 76–78%, sementara dana murah atau CASA mendominasi hingga 82,5%. Hal ini membuat net interest margin (NIM) BBCA tetap stabil dan memberi ruang ekspansi lebih lanjut.
Sentimen positif juga datang dari konsensus pasar. Data Bloomberg mencatat 34 analis memberikan rekomendasi buy untuk BBCA, dengan hanya tiga analis menyarankan hold. Target harga rata-rata dipatok Rp10.824 per saham, menunjukkan potensi kenaikan lebih dari 38% dibandingkan harga penutupan hari ini.

