Trump Klaim Ada Ancaman, AS Tarik Bomber B-1 dari Inggris di Tengah Investigasi Teror Flydubai
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington memindahkan seluruh pesawat pengebom jarak jauh B-1 dari pangkalan RAF Fairford di Inggris setelah menerima “ancaman” yang menurutnya berkaitan dengan Iran. Pernyataan itu muncul ketika investigasi terhadap dugaan aksi teror di penerbangan flydubai yang menuju Israel terus berkembang dan memunculkan kekhawatiran mengenai operasi teror lintas negara.
Baca Juga
AS Tarik Seluruh Pesawat Pengebom dari Pangkalan Inggris Usai Ancaman Teror Terkait Iran
Trump mengatakan pada Senin (5/10/2026) bahwa AS mengetahui adanya ancaman terhadap pangkalan tersebut dan memilih memindahkan pesawat untuk mengurangi risiko.
“Kenapa saya harus meninggalkan mereka di sana?” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Menurutnya, memindahkan pesawat tidak membutuhkan biaya besar.
Ketika ditanya siapa yang berada di balik ancaman tersebut, Trump menjawab bahwa pihak tersebut “terkait dengan Iran”. Namun, Trump tidak memberikan rincian mengenai sifat ancaman maupun bukti yang mendasari penilaiannya.
Pentagon sebelumnya mengonfirmasi bahwa sekitar selusin B-1 yang ditempatkan di RAF Fairford telah dipindahkan kembali ke pangkalan asalnya di AS. Pesawat-pesawat tersebut sebelumnya digunakan dalam operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Associated Press (AP) melaporkan penarikan itu dilakukan setelah penyelidikan mengungkap adanya dugaan rencana serangan teror terhadap pangkalan tersebut. Sementara Reuters melaporkan keputusan pemindahan B-1 dilakukan setelah lima orang ditangkap di sekitar RAF Fairford karena dugaan pelanggaran terkait terorisme.
Kasus tersebut bermula pada 27 September ketika polisi mendapat laporan mengenai tiga kendaraan mencurigakan di sekitar pangkalan. Lima pria kemudian ditangkap dan dibebaskan dengan jaminan. Seorang pria berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran juga kemudian ditangkap dalam penyelidikan tersebut.
Polisi Inggris mengatakan tidak menemukan bahan peledak di kendaraan, tetapi menemukan sejumlah bahan bakar. Penyelidikan kontraterorisme masih berlangsung.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sebelumnya mengatakan terdapat “indikasi kuat” bahwa Iran berperan dalam insiden tersebut. Namun, Iran dengan tegas membantah keterlibatannya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengambil posisi yang lebih berhati-hati. Ia mengatakan perpindahan aset militer AS merupakan hal yang biasa dan tidak secara langsung mengaitkannya dengan insiden tertentu di Fairford. Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengatakan pemindahan bomber dilakukan “karena kehati-hatian yang berlebihan” untuk melindungi personel AS.
Reuters melaporkan bahwa pemindahan B-1 akan mengurangi kemampuan AS untuk dengan cepat meningkatkan serangan udara terhadap Iran dari Inggris. Namun, pangkalan tersebut memang memiliki keterbatasan karena Inggris hanya mengizinkan penggunaannya untuk serangan yang bersifat defensif.
Teror Flydubai Jadi Perhatian Baru
Perkembangan di RAF Fairford berlangsung hanya beberapa hari setelah insiden serius di dalam pesawat flydubai yang terbang dari Dubai menuju Tel Aviv.
Penerbangan FZ1073 mengalami keadaan darurat pada 30 September setelah kopilot diduga menyerang kapten menggunakan kapak darurat di kokpit. Pesawat yang membawa lebih dari 170 penumpang dan awak kemudian mengalami penurunan ketinggian secara drastis sebelum berhasil dikendalikan kembali.
Baca Juga
Berdarah di Kokpit, Machchhar, Pilot India Sukses Selamatkan 182 Orang dari Maut
Menurut Reuters, pesawat sempat turun sekitar 16.000 kaki dalam waktu sekitar 30 detik. Para penumpang dan awak kemudian membantu mengatasi pelaku, sementara penerbangan dialihkan dan melakukan pendaratan darurat di Tabuk, Arab Saudi. Pesawat kemudian berada dalam kondisi aman.
Jaksa Agung Uni Emirat Arab (UEA) menyebut insiden tersebut sebagai tindakan teror dan mengatakan penyelidikan dilakukan untuk menentukan seluruh keadaan, termasuk motif pelaku. Pelaku kini berada dalam tahanan UEA dan belum ada dakwaan formal yang diumumkan.
Reuters pada Senin melaporkan perkembangan penting dalam penyelidikan. Dua pejabat Israel yang mengetahui penyelidikan mengatakan kopilot tersebut diduga telah merencanakan serangan sebelum bergabung dengan flydubai.
Menurut sumber yang dikutip Reuters, pelaku, Hamam al-Hammami, warga negara Oman, diduga merencanakan untuk menjatuhkan pesawat ke Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv. Ia bahkan diduga pernah berniat melakukan serangan serupa dalam penerbangan sebelumnya menuju Tel Aviv, tetapi membatalkannya karena mengenal seseorang yang berada di dalam pesawat tersebut.
The Guardian melaporkan bahwa penyidik menduga rencana serangan tersebut mungkin sudah disusun sejak Juli dan baru dijalankan kemudian. Investigasi kini dilakukan di sejumlah negara untuk menelusuri latar belakang, perjalanan, pendidikan, serta kemungkinan proses radikalisasi al-Hammami.
Jejak Radikalisme dan Celah Keamanan
Identitas al-Hammami sebelumnya diungkap oleh CNN. Media tersebut melaporkan bahwa ia pernah bekerja untuk Oman Air dan kemudian maskapai lain sebelum bergabung dengan flydubai. Sumber CNN menyebut ia pernah dikeluarkan dari pekerjaan sebelumnya karena kekhawatiran terkait pandangan ekstremnya.
CNN juga menemukan unggahan media sosial yang dikaitkan dengannya, termasuk materi yang menampilkan tokoh-tokoh Al Qaeda. Namun, media tersebut menekankan bahwa tidak jelas apakah sejumlah unggahan yang muncul setelah serangan telah dijadwalkan sebelumnya atau dipublikasikan oleh orang lain.
Associated Press (AP) dalam pemeriksaan faktanya menyebut kasus tersebut telah menimbulkan pertanyaan serius mengenai kegagalan intelijen dan prosedur keamanan penerbangan. AP juga menyoroti bahwa al-Hammami sebelumnya disebut telah mendapat perhatian terkait pandangan ekstrem, tetapi tetap dapat bekerja sebagai pilot.
Australia ikut menyelidiki latar belakang al-Hammami setelah diketahui pernah belajar di RMIT University di Melbourne. Reuters melaporkan kepolisian Australia sedang menyelidiki hubungan dan aktivitasnya selama berada di negara tersebut.
Israel kini melakukan evaluasi terhadap sistem pemeriksaan awak pesawat asing. Kasus ini menimbulkan pertanyaan bagaimana seorang pilot asing dengan riwayat yang dilaporkan mengandung sejumlah tanda bahaya dapat bertugas pada penerbangan menuju Israel.
Salah satu aspek paling sensitif dari kasus ini adalah dugaan hubungan dengan Iran.
Trump pada Senin mengatakan ia secara pribadi meyakini Iran berada di balik serangan flydubai. Namun, pernyataan tersebut belum didukung bukti publik yang menunjukkan adanya perintah, pendanaan, atau koordinasi langsung dari pemerintah Iran.
Bahkan pada hari yang sama, Wakil Presiden JD Vance mengatakan ia belum melihat bukti konklusif mengenai keterlibatan Iran. The Times of Israel juga melaporkan bahwa sumber keamanan Israel sejauh ini menilai al-Hammami kemungkinan besar bertindak sendiri.
CNN sebelumnya memperoleh informasi dari dua sumber Israel yang menyatakan indikasi awal menunjukkan al-Hammami bertindak seorang diri dan bukan bagian dari jaringan yang lebih besar. Namun, penyelidikan masih berlangsung sehingga kesimpulan tersebut dapat berubah jika bukti baru ditemukan.
Dengan demikian, terdapat perbedaan antara klaim politik dan temuan penyidik. UEA secara resmi menyelidiki insiden tersebut sebagai tindakan teror, sementara keterkaitan pelaku dengan organisasi teroris atau negara tertentu masih belum terbukti secara terbuka.
Dua Kasus, Satu Kekhawatiran Keamanan
Insiden flydubai dan kasus RAF Fairford kini menjadi perhatian karena keduanya terjadi di tengah perang AS-Israel melawan Iran dan meningkatnya ancaman keamanan di kawasan.
Namun, kedua kasus tersebut belum dapat dipastikan memiliki hubungan langsung.
Dalam kasus Fairford, otoritas Inggris menyelidiki kemungkinan keterlibatan negara asing dan sejumlah pejabat menyebut adanya indikasi hubungan Iran. Dalam kasus flydubai, penyelidikan justru sejauh ini lebih mengarah pada kemungkinan aksi individu yang telah mengalami radikalisasi, sementara keterlibatan Iran belum terbukti.
Perbedaan ini menjadi penting karena setiap atribusi terhadap Iran dapat memiliki konsekuensi geopolitik yang jauh lebih besar.
Trump sebelumnya telah memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika terbukti terlibat dalam serangan flydubai. Dengan perang yang masih berlangsung, dugaan serangan terhadap pangkalan militer AS dan pesawat sipil menuju Israel berpotensi memperluas dimensi konflik dari medan perang konvensional ke ancaman teror dan sabotase lintas wilayah.
