Kebakaran Jenggot, Negara Ini Nggak Mau Ada Bomber Tu-95 Di Depan Hidung Mereka
Jakarta, investortrust.id - Kabar mengenai proposal Moskow untuk mendapatkan ijin agar Pangkalan TNI AU di Lanud Manuhua bisa menjadi pangkalan bagi pesawat pembom jarak jauh Tu-95.BM dan pesawat angkut berat IL-76, di Biak Numfor di Papua membuat gusar pemerintah Australia. Seperti dilansir dari Australian Broadcasting Corporation (ABC), Menteri Pertahanan Australia Richard Marles telah berbicara melalui sambungan telepon dengan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, yang menegaskan tidak akan ada pesawat Angkatan Udara Rusia yang berpangkalan di Indonesia.
"Dia (Menteri Sjafrie) telah mengatakan kepada saya dengan sejelas-jelasnya, laporan tentang prospek pesawat Rusia yang beroperasi dari Indonesia sama sekali tidak benar," kata Marles.
Menanggapi isu ini, Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI, Frega Wenas, menyebut bahwa laporan (dari media pertahanan internasional Janes Defense) ini keliru. Tidak ada rencana atau wacana penempatan armada VKS Rusia di Papua. "Laporan tersebut salah," tegasnya.
Sebelumnya, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan pemerintahnya telah bertanya kepada Indonesia tentang laporan Janes, karena isu tersebut mendominasi kampanye pemilihan umum Australia pada hari Selasa. Pasalnya, pemimpin oposisi Peter Dutton, telah mengangkat laporan itu dan menegaskan bahwa hal ini mengkhawatirkan.
"Kami jelas tidak ingin melihat pengaruh Rusia di wilayah kami," kata Albanese kepada wartawan. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan "Indonesia sangat penting bagi keamanan Australia" dan kedua negara telah mencapai kesepakatan kerja sama pertahanan tahun lalu.
Pangkalan Udara TNI AU Manuhua, Biak Numfor Papua terletak sekitar 1.384,40 km di utara kota Darwin, Australia, tempat pasukan rotasi Korps Marinir Amerika Serikat bermarkas selama enam bulan dalam setahun. Pangkalan udara Australia di wilayah itu pun sedang ditingkatkan untuk dapat menampung pesawat pengebom AS yang akan mendarat dan singgah di Darwin.
Isu ini berkembang liar setelah media pertahanan internasional Janes Defense melaporkan bahwa Federasi Rusia meminta kepada pemerintah Indonesia untuk menjadikan Lanud Manuhua di Biak, Papua, sebagai lokasi pangkalan bagi pesawat-pesawat militer Rusia seperti pembom jarak jauh strategis Tupolev Tu-95MS Bear dan Pesawat angkut berat Ilyushin Il-76 "Candid".
Tentu saja jarak 1.384,40 km dari pangkalan Udara TNI AU Manuhua, Biak Numfor di Papua menuju Darwin Australia tidak menjadi masalah bagi pembom jarak jauh Tu-95MS yang memiliki jangkauan 8.000 km tanpa pengisian ulang bahan bakar di udara. Tu-95MS dapat membawa berbagai amunisi hingga 11 ton termasuk senjata nuklir dan mampu menebar ancaman kepada berbagai target dalam jangkauan hingga 8.000 km dari pangkalannya.
Meski terlihat seperti pesawat tua dan memang tua karena terbang perdananya di tahun 1952, namun sejatinya Tu-95 telah mengalami berbagai peningkatan dan modernisasi seperti peningkatan elektronika, avionik dan perangkat penargetan, penguatan airframe untuk memperpanjang usia layanan hingga 20 tahun ke depan.
Standar Ganda
Kekhawatiran Australia sedikit berlebihan karena dalam sejarahnya Indonesia tidak pernah mengijinkan negara manapun untuk mendirikan pangkalan militer di dalam wilayah NKRI, berbanding terbalik dengan Australia yang memberikan wilayah di Darwin sebagai pangkalan bagi Marinir AS yang notabene dekat dengan perbatasan RI.
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menegaskan pendirian pangkalan militer asing di wilayah Indonesia merupakan pelanggaran terhadap konstitusi dan bertentangan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang menjadi pijakan utama diplomasi Indonesia.
"Konstitusi kita dan berbagai peraturan perundang-undangan secara tegas melarang keberadaan pangkalan militer asing. Hal ini bukan hanya soal hukum, tetapi menyangkut prinsip kedaulatan nasional dan arah politik luar negeri kita," kata TB Hasanuddin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, (15/4/2025).
Video: Courtesy of Future Machine Tech youtube channel
