Inflasi Energi Bayangi Ekonomi Eropa, ECB Kerek Suku Bunga ke 2,5%
Poin Penting
|
FRANKFURT, investortrust.id - Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,25%. Keputusan ini memberikan sinyal bahwa perang AS-Iran dan lonjakan harga energi mulai menjadi ancaman serius bagi prospek inflasi kawasan euro.
Kenaikan tersebut menjadi langkah pengetatan lanjutan ECB setelah bank sentral mulai menaikkan suku bunga pada Juni 2026, untuk pertama kalinya sejak 2023. ECB sebelumnya menahan suku bunga pada pertemuan Juli sembari memantau dampak guncangan energi dan efek lanjutan terhadap inflasi.
Baca Juga
Harga Minyak Bergolak Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran, Brent Menuju US$ 120?
Presiden ECB Christine Lagarde, Kamis (10/9/2026), mengatakan ketidakpastian ekonomi masih sangat tinggi. Konflik di Timur Tengah dan perkembangan perang Rusia-Ukraina membuat inflasi utama berpotensi bertahan jauh di atas target ECB sebesar 2% dalam periode yang lebih panjang.
Dalam pernyataannya, Dewan Gubernur ECB menyebutkan prospek tetap sangat tidak pasti, dengan risiko inflasi mengarah ke atas dan risiko pertumbuhan ekonomi mengarah ke bawah.
Lagarde mengatakan ekonomi zona euro sejauh ini menunjukkan ketahanan yang lebih besar dari perkiraan. Namun, kejutan harga energi serta ketegangan perdagangan global tetap menjadi ancaman terhadap pertumbuhan.
Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah inflasi zona euro mencapai 3,3% pada Agustus. Lonjakan terutama berasal dari energi, ketika inflasi energi melonjak 14,3%.
Kekhawatiran Inflasi Energi
Zona euro merupakan importir energi bersih sehingga kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memberikan tekanan langsung terhadap biaya energi, transportasi, produksi dan konsumsi.
Perang AS-Iran juga semakin mengganggu lalu lintas energi melalui Selat Hormuz. Pada Kamis, 10 September, harga minyak mentah melonjak lebih dari 6%. Brent ditutup pada US$107,63 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$102,48, keduanya merupakan level penutupan tertinggi sejak Mei. Reuters melaporkan lonjakan tersebut dipicu meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dan kekhawatiran gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Kondisi ini membuat tugas ECB menjadi semakin sulit. Bank sentral harus menekan inflasi tanpa memperburuk perlambatan ekonomi akibat tingginya biaya energi.
ECB memperkirakan inflasi inti, yang tidak memasukkan energi dan pangan, berada di 2,5% pada 2026, naik menjadi 2,6% pada 2027, sebelum turun menjadi 2,3% pada 2028.
Financial Times melaporkan ECB kini melihat inflasi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. ECB juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan euro sebesar 0,9% pada 2026 dan 1,4% pada 2027.
Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan. Sejumlah ekonom Deutsche Bank memperkirakan suku bunga ECB dapat mencapai puncak 2,75%, sementara sebagian investor melihat kemungkinan tingkat terminal 3%.
Ed Hutchings, head of rates di Aviva Investors, mengatakan inflasi tetap menjadi sumber kekhawatiran utama bagi ECB. "Jelas bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut akan datang, dan mungkin lebih dari satu kali," ujarnya, dikutip CNBC.
Sementara itu, Patrick Ernst, macro investment strategist di JP Morgan Private Bank, mengatakan arah suku bunga ECB akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik.
Menurutnya, ECB masih membuka peluang pengetatan lebih lanjut karena risiko inflasi yang dipicu energi belum hilang.
Felix Feather, ekonom Aberdeen, bahkan memperkirakan ECB akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember.
Dengan demikian, perang AS-Iran tidak lagi hanya menjadi persoalan geopolitik dan energi. Konflik tersebut kini secara langsung memengaruhi arah kebijakan moneter Eropa.
Baca Juga
Hadapi Ancaman Inflasi Gara-gara Perang Iran, ECB Kerek Suku Bunga ke 2,25%
Semakin lama gangguan pelayaran dan pasokan minyak berlangsung, semakin besar kemungkinan ECB menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan melindungi pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan suku bunga terbaru juga memperkuat pesan bahwa era pelonggaran moneter cepat di Eropa dapat tertunda apabila tekanan energi terus bertahan.
