Lawan Inflasi, ECB Kerek Bunga ke Rekor Tertinggi
JAKARTA, Investortrust.id – Guna meredam inflasi yang belum sesuai target, Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan lagi suku bunga hingga mencapai rekor tertinggi.
Baca Juga
Inflasi Melandai, ECB Dilematis Lepas atau Tetap Kerek Suku Bunga
Bank Sentral Eropa pada Kamis (14/9/2023) mengumumkan kenaikan suku bunga utamanya yang ke-10 berturut-turut. ECB berprinsip, perjuangan melawan inflasi lebih diutamakan dibandingkan melemahnya perekonomian.
Serangkaian kenaikan suku bunga ini belum pernah terjadi sebelumnya. Fasilitas simpanan bank sentral terus dikerek dari -0,5% pada Juni 2022 ke rekor 4%.
Alasan utama kenaikan tersebut, seperti dikutip CNBC internasional, adalah revisi ke atas dalam proyeksi makroekonomi yang baru diterbitkan untuk kawasan euro, yang memperkirakan inflasi rata-rata sebesar 5,6% tahun ini, 3,2% tahun depan, dan 2,1% pada tahun 2025.
Meskipun ECB telah dengan tegas mengisyaratkan langkah selanjutnya dalam pertemuan sebelumnya, para ekonom dan analis berbeda pendapat mengenai apakah kelompok yang berhaluan dovish atau hawks di Frankfurt akan menang pada bulan September.
Pasar uang mengindikasikan sekitar 63% peluang kenaikan suku bunga hingga Kamis pagi, naik dari perpecahan yang lebih merata dalam beberapa hari terakhir.
Laporan pasar minyak menunjukkan berkurangnya pasokan dan harga yang lebih tinggi sepanjang sisa tahun ini dan seterusnya telah memicu kekhawatiran inflasi. Sementara artikel Reuters pada hari Rabu menunjukkan bahwa ECB memperkirakan inflasi zona euro akan tetap di atas 3% pada tahun 2024 tampaknya meningkatkan taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga. Laporan tersebut datang dari sebuah sumber menjelang rilis proyeksi triwulanan pada hari Kamis.
Inflasi harga konsumen utama di UE adalah 5,3% pada bulan Agustus, tingkat yang sama dengan inflasi inti, yang tidak memperhitungkan biaya makanan dan energi.
Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan dalam pidatonya bulan lalu di Jackson Hole bahwa perjuangan melawan inflasi “belum dimenangkan.” Namun, beberapa pihak percaya bank sentral akan menunda kenaikan suku bunga lebih lanjut hingga bulan Oktober mengingat memburuknya indikator ekonomi, khususnya di Jerman.
Negara dengan perekonomian terbesar di Eropa ini terus menunjukkan kemerosotan, dengan sentimen bisnis yang merosot dan sektor jasa kini menurun seiring dengan menurunnya sektor manufaktur.
Jerman diperkirakan menjadi satu-satunya negara besar di Eropa yang mengalami kontraksi tahun ini. Gmbaran umum kawasan juga suram, dengan aktivitas bisnis zona euro menurun pada bulan Agustus ke level terendah sejak November 2020.
Baca Juga

