Inflasi Melandai, ECB Dilematis Lepas atau Tetap Kerek Suku Bunga
JAKARTA, Investortrust.id - Inflasi inti zona Euro telah melandai, memperberat dilema yang dihadapi oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), apakah mereka akan melanjutkan kenaikan suku bunga ke arah posisi tertinggi sejak dilansirnya mata uang tunggal Euro.
Kantor Badan Statistik Uni Eropa mengatakan pada Kamis (31/8/2023) bahwa inflasi secara keseluruhan untuk Kawasan Euro tetap stabil di angka 5,3% periode hingga Agustus tahun ini, harga-harga di luar energi dan makanan pun mulai mengalami penurunan.
Angka tersebut disampaikan menjelang pertemuan ECB pada tanggal 14 September mendatang. Membuat ECB menghadapi salah satu keputusan paling rumit dalam beberapa tahun terakhir, apakah akan menaikkan suku bunga lebih lanjut sehingga mempertaruhkan ekonomi Zona Euro masuk ke jurang resesi, atau membiarkan inflasi terus tinggi jauh di atas target 2%.
Baca Juga
Agustus Kelabu Wall Street Sepanjang 2023, Dow Tergerus 2,36%
Bank Sentral AS, atau The Federal Reserve juga menghadapi dilema yang sama terkait kenaikan suku bunga, mengingat ukuran inflasi yang menjadi preferensi belakangan mencatatkan kenaikan yang sangat rendah secara beruntun sejak akhir 2020. Rendahnya inflasi di Amerika Serikat mendorong peningkatan pengeluaran konsumen dan meningkatnya harapan akan terhindar dari resesi.
Namun, Bank Sentral tersebut masih merasa belum mencapai target kebijakan, dan kuatnya belanja konsumen menjadi kekhawatiran baru bagi para pembuat kebijakan yang berupaya memastikan inflasi terus bergerak turun.
Para pembuat kebijakan di ECB pun tetap mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada bulan September, setelah kenaikan pada bulan Juli. Meskipun beberapa di antara angota dewan gubernur bank sentral saat proyeksi ekonomi baru dirilis pada Kamis lalu berpendapat bahwa kenaikan berikutnya tidak lagi diperlukan.
Baca Juga
Sekedar catatan, ECB telah menaikkan suku bunga dari minus 0,5% menjadi 3,75% dalam waktu lebih dari satu tahun untuk melawan lonjakan inflasi. Argumen untuk melakukan jeda kenaikan suku bunga saat ini semakin meningkat, terutama karena pertumbuhan ekonomi terlihat melambat, di bawah proyeksi ECB yang memang relatif sudah cukup rendah.
"Kenaikan suku bunga lebih lanjut pada bulan September akan diperlukan jika tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa efek pengetatan kumulatif sudah cukup kuat untuk menurunkan inflasi," demikian catatan dari pertemuan pada 26-27 Juli lalu, dilansir Theirishtimes.com.
Data inflasi Agustus yang dipaparkan pada hari Kamis menunjukkan perlambatan pertumbuhan harga yang mendasar menjadi 5,3% dari 5,5%. Catatan pertemuan tersebut juga menyebutkan bahwa inflasi diperkirakan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama, kendati pertumbuhan ekonomi melambat.
Baca Juga
Wall Street Mulai Kehilangan Tenaga, Dua Indeks Utama Melemah

