Inflasi AS Desember Melandai, Trump Kembali Desak Pemangkasan Suku Bunga
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Kenaikan indeks harga konsumen inti Amerika Serikat (AS) lebih rendah dari perkiraan pada Desember. Hal ini memperkuat harapan bahwa tekanan inflasi mulai mereda saat Federal Reserve mempertimbangkan langkah kebijakan suku bunga berikutnya.
Baca Juga
Inflasi AS Lebih Rendah dari Perkiraan, Buka Harapan Pelonggaran Kebijakan The Fed
Tidak termasuk harga pangan dan energi yang bergejolak, indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) mencatat kenaikan 0,2% secara bulanan (month-on-month) dan 2,6% secara tahunan (year-on-year), setelah disesuaikan secara musiman, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics/BLS) pada Selasa (13/1/2026). Kedua angka itu lebih rendah 0,1 poin persentase dari ekspektasi pasar.
Secara keseluruhan (headline), CPI naik 0,3% pada Desember, sehingga tingkat inflasi tahunan untuk seluruh komponen mencapai 2,7%. Kedua angka tersebut sesuai dengan estimasi konsensus Dow Jones.
Meski memperhatikan kedua indikator, para pejabat The Fed menilai inflasi inti sebagai tolok ukur jangka panjang yang lebih baik untuk melihat arah inflasi ke depan.
The Fed menargetkan inflasi tahunan sebesar 2%. Karena itu, laporan ini memberikan bukti bahwa laju kenaikan harga mulai kembali mendekati target, meskipun masih berada di level yang relatif tinggi.
Kontrak berjangka saham AS sempat menguat setelah laporan dirilis, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS turun. Pelaku pasar berspekulasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini dan kemungkinan baru mempertimbangkan pemangkasan berikutnya pada Juni, menurut indikator FedWatch CME Group.
Presiden Donald Trump memanfaatkan laporan CPI ini untuk kembali mendesak Ketua The Fed Jerome Powell dan jajaran pejabat bank sentral agar melonggarkan kebijakan moneter.
Baca Juga
Powell Terancam ‘Gugatan’, Trump Desak Pemangkasan Suku Bunga
“Angka inflasi (RENDAH!) yang hebat untuk AS. Itu berarti Jerome ‘Too Late’ Powell harus memangkas suku bunga, secara SIGNIFIKAN!!!,” tulis Trump di Truth Social. “Jika tidak, dia akan terus menjadi ‘TERLALU TERLAMBAT!’”
Komponen hunian (shelter), yang dikenal sebagai sumber kekakuan inflasi, naik 0,4% dan menjadi kontributor terbesar kenaikan bulanan CPI, menurut BLS. Kategori ini menyumbang lebih dari sepertiga bobot CPI dan meningkat 3,2% secara tahunan.
Bagian lain dari laporan juga menunjukkan inflasi masih bertahan. Harga pangan melonjak 0,7% pada bulan tersebut, meskipun harga telur anjlok 8,2% dan turun hampir 21% dibandingkan setahun sebelumnya setelah sebelumnya sempat melonjak tajam. Kenaikan juga terlihat pada kategori rekreasi, tarif penerbangan, dan layanan kesehatan.
Harga energi naik 0,3% secara bulanan dan 2,3% secara tahunan. Namun, harga bensin justru turun masing-masing 0,5% dan 3,4%.
Beberapa kategori yang sensitif terhadap tarif, termasuk pakaian, juga mencatat kenaikan. Namun, perabot rumah tangga turun 0,5% setelah Presiden Donald Trump mengendurkan ancaman kenaikan tarif impor untuk sektor tersebut.
Kenaikan 1,2% pada kategori rekreasi merupakan lonjakan bulanan terbesar sejak data indeks ini dicatat pada 1993.
Laporan ini kemungkinan membuat bank sentral tetap menahan kebijakan untuk sementara waktu. Para pembuat kebijakan telah memangkas suku bunga acuannya tiga kali pada paruh akhir 2025, dan pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga sepanjang paruh pertama tahun ini sambil menilai dampak pemangkasan tersebut terhadap kondisi ekonomi secara umum.
“Kita sudah pernah melihat rangkaian gambaran ini sebelumnya—inflasi tidak memanas kembali, tetapi tetap berada di atas target,” tulis Ellen Zentner, kepala ahli strategi ekonomi di Morgan Stanley Wealth Management, seperti dikutip CNBC. Dampak tarif masih relatif terbatas, tetapi keterjangkauan perumahan belum membaik. Laporan inflasi ini, menurut dia, tidak memberikan apa yang dibutuhkan The Fed untuk memangkas suku bunga bulan ini.
Saat ini, para pejabat The Fed menimbang risiko terhadap pasar tenaga kerja dibandingkan potensi inflasi yang bertahan. Tarif yang diterapkan Trump menambah kompleksitas, meskipun sebagian besar pembuat kebijakan menilai dampaknya terhadap inflasi bersifat sementara.
Beberapa bagian laporan, terutama pada barang, menunjukkan tanda-tanda deflasi. Harga mobil dan truk bekas turun 1,1%, sementara indeks komunikasi merosot 1,9%. Harga kendaraan baru tidak berubah.
Rilis data pada Selasa ini membuat BLS kembali mutakhir dalam pelaporan inflasi dan ketenagakerjaan setelah ‘shutdown’ pemerintah AS tahun lalu, yang sempat menghentikan pengumpulan dan publikasi data. Dengan memperhitungkan kenaikan harga Desember, upah riil tercatat stagnan secara bulanan dan naik 1,1% dibandingkan setahun sebelumnya, menurut laporan terpisah BLS.
Baca Juga

