Hadapi Ancaman Inflasi Gara-gara Perang Iran, ECB Kerek Suku Bunga ke 2,25%
Poin Penting
|
FRANKFURT, investortrust.id - Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,25% pada Kamis (12/6), menandai kenaikan pertama sejak 2023. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah mengganggu pasokan energi global.
Baca Juga
Konflik Timteng Dorong Inflasi Eropa, ECB Pilih Tahan Suku Bunga
Keputusan tersebut sebenarnya telah diperkirakan pasar. Data LSEG menunjukkan investor telah memperhitungkan hampir 100% peluang kenaikan suku bunga menjelang rapat Dewan Gubernur ECB bulan Juni.
Dalam pernyataannya, ECB menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah telah menciptakan tekanan inflasi yang signifikan sehingga memerlukan respons kebijakan moneter yang lebih ketat.
Perang di Timur Tengah menghasilkan tekanan inflasi dan keputusan menaikkan suku bunga dinilai tepat dalam berbagai skenario perkembangan guncangan energi terhadap prospek jangka menengah kawasan euro.
Inflasi Naik, Pertumbuhan Dipangkas
ECB juga merevisi naik proyeksi inflasi kawasan euro. Inflasi diperkirakan rata-rata mencapai 3% pada 2026 sebelum melambat menjadi 2,3% pada 2027 dan kembali ke target 2% pada 2028.
Kenaikan proyeksi tersebut didorong oleh ekspektasi harga energi yang lebih tinggi. Biaya energi yang meningkat diperkirakan akan merembet ke harga pangan, barang konsumsi, dan sektor jasa.
Sebaliknya, prospek pertumbuhan ekonomi justru dipangkas. ECB kini memperkirakan ekonomi zona euro hanya tumbuh 0,8% pada 2026, meningkat menjadi 1,2% pada 2027 dan 1,5% pada 2028.
Menurut pejabat ECB, revisi tersebut mencerminkan dampak perang yang lebih besar terhadap pasar komoditas, daya beli masyarakat, dan kepercayaan pelaku usaha.
Ketidakpastian Masih Tinggi
Presiden ECB, Christine Lagarde, menegaskan bahwa konflik Timur Tengah masih menjadi sumber risiko utama bagi inflasi maupun pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Setelah Trump Ancam Serangan Baru ke Iran, Dow Ambles Lebih dari 900 Poin
"Prospek ekonomi masih sangat tidak pasti, dengan risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan pertumbuhan. Kami tidak berkomitmen pada jalur suku bunga tertentu," ujar Lagarde dalam konferensi pers, seperti dilansir CNBC.
Menurutnya, dampak akhir perang terhadap inflasi dan pertumbuhan akan sangat bergantung pada durasi konflik, intensitas guncangan harga energi, serta efek lanjutan terhadap ekonomi.
Perang Iran yang telah melewati hari ke-100 memicu krisis energi global setelah penutupan sebagian jalur pelayaran strategis Selat Hormuz serta kerusakan sejumlah fasilitas produksi energi di Timur Tengah.
Meski gencatan senjata rapuh masih berlaku, ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Data awal menunjukkan inflasi zona euro naik menjadi 3,2% pada Mei, jauh di atas target ECB sebesar 2%. Pada saat yang sama, ekonomi kawasan hanya tumbuh 0,1% pada kuartal pertama tahun ini.
Momen Penting
Kepala Ekonom Eropa di Deutsche Bank, Mark Wall, menyebut keputusan ECB sebagai momen penting.
Menurutnya, ini bukan hanya kenaikan pertama ECB sejak 2023, tetapi juga kenaikan pertama oleh bank sentral utama dunia sebagai respons terhadap guncangan energi akibat perang.
Wall memperkirakan ruang kenaikan suku bunga berikutnya relatif terbatas karena risiko perlambatan ekonomi mulai meningkat.
Sementara itu, Chief Investment Officer di Premier Miton Investors, Neil Birrell, menilai keputusan ECB cukup logis mengingat tekanan inflasi yang terus meningkat.
Ia memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga tambahan tahun ini, tergantung perkembangan data inflasi dan kondisi pasar energi global.
