Iran Perketat Syarat Pembukaan Hormuz, Harga Minyak Kembali Melonjak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak kembali melonjak setelah Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran. Pernyataan tersebut memupus sebagian harapan pasar bahwa lalu lintas kapal di jalur energi strategis itu segera kembali normal.
Baca Juga
Pembukaan Hormuz Masih ‘Simpang Siur’, Iran Bantah Negosiasi Langsung dengan AS
Dikutip dari CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3% menjadi US$83,20 per barel pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak 1,36% menjadi US$88,91 per barel.
Dengan kenaikan tersebut, harga minyak telah melonjak lebih dari 6% sepanjang pekan ini seiring memudarnya ekspektasi tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran. Kesepakatan AS-Iran diharapkan dapat meningkatkan kembali lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan Amerika Serikat harus mencairkan kembali dana Iran yang dibekukan di luar negeri sebagai salah satu syarat pembukaan Selat Hormuz, menurut Reuters.
Pernyataan itu muncul ketika pasar masih menerima sinyal yang saling bertolak belakang mengenai peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif memberikan sinyal lebih positif. Kepada Bloomberg News, Asif mengatakan proses menuju pengaturan perdamaian atau kesepakatan kembali menunjukkan perkembangan.
Pakistan sebelumnya menjadi mediator kesepakatan sementara AS-Iran pada Juni. Namun, kesepakatan tersebut dengan cepat runtuh dan diikuti kembali oleh konflik yang mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menuntut Teheran membayar kompensasi kepada Amerika Serikat.
Sepekan sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa kesepakatan baru mengenai Hormuz mungkin segera tercapai. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan konkret.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga masih sangat rendah. Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan hanya delapan kapal yang melintasi selat tersebut pada Senin.
Sebagai perbandingan, lebih dari 130 kapal melintasi Hormuz sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan ekspor minyak melalui Hormuz kini mencapai rata-rata tujuh hari sekitar 9 juta barel per hari berkat dukungan militer AS.
Jika ekspor melalui jaringan pipa turut diperhitungkan, total aliran minyak dari kawasan Teluk mencapai sekitar 15 juta barel per hari, kata Wright.
Langkah Washington
Di tengah ketidakpastian negosiasi AS-Iran, Presiden Trump pada Senin memperpanjang penangguhan penerapan Jones Act, aturan yang membatasi pengangkutan barang antar-pelabuhan AS hanya menggunakan kapal berbendera Amerika.
Namun, kali ini pengecualian tersebut dipersempit hanya untuk kapal yang mengangkut sejumlah komoditas energi tertentu.
Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah AS menjaga kelancaran pasokan energi domestik di tengah gangguan perdagangan yang ditimbulkan konflik Iran.
Di sisi lain, cadangan minyak strategis Amerika Serikat juga berada di posisi yang semakin rendah.
Data Departemen Energi AS yang dirilis Senin menunjukkan stok Strategic Petroleum Reserve (SPR) telah turun di bawah 300 juta barel, level terendah dalam lebih dari empat dekade.
Baca Juga
Cadangan Minyak Strategis AS Menyusut di Bawah 300 Juta Barel, Terendah Sejak 1983
Trump sebelumnya memerintahkan pelepasan 172 juta barel minyak dari SPR pada Maret untuk meredam gangguan pasokan akibat perang Iran.
Rendahnya cadangan strategis tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Setiap gangguan lebih lanjut terhadap pengiriman minyak melalui Hormuz berpotensi memperketat pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Selat Hormuz merupakan jalur energi vital dunia. Karena itu, ketidakpastian mengenai kapan jalur tersebut kembali dibuka sepenuhnya menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah harga minyak global.

