Iran Klaim Serang Dua Tanker di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali naik setelah Iran mengeklaim telah menyerang dua kapal tanker yang sedang melintasi Selat Hormuz.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 1% menjadi US$84,67 per barel pada perdagangan Jumat (31/7/2026). Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan internasional menguat lebih dari 1% dan berakhir di level US$90,12 per barel.
Baca Juga
Minyak Brent Anjlok Hampir 5% Usai Iran Bahas Selat Hormuz dengan Saudi dan Oman
Padahal sebelumnya, harga minyak sempat merosot lebih dari 5% sepanjang pekan akibat optimisme bahwa ketegangan di Timur Tengah akan mereda.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang dua kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz di bawah pengawalan militer Amerika Serikat. Menurut media pemerintah PressTV, empat kapal tanker lainnya memutuskan berbalik arah setelah serangan tersebut.
Namun hingga kini, organisasi keamanan maritim Amerika Serikat maupun Inggris yang memantau lalu lintas pelayaran di kawasan Timur Tengah belum mengonfirmasi insiden tersebut.
Kepala Eksekutif Chevron Mike Wirth mengatakan ancaman terhadap pasokan energi kini telah melampaui kawasan Selat Hormuz. Menurutnya, persediaan minyak global terus menyusut sementara konflik terus meluas.
"Situasi berada dalam tekanan dan saya khawatir kondisi ini akan terus berlanjut. Waktu semakin sempit dan setiap hari yang berlalu membuat situasi semakin sulit," kata Wirth kepada CNBC.
Senada dengan itu, CEO ExxonMobil Darren Woods menegaskan Selat Hormuz harus kembali dibuka karena dunia masih sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
"Selat Hormuz merupakan jalur utama pasokan energi dunia yang menopang pertumbuhan ekonomi global. Cepat atau lambat minyak dari kawasan ini harus kembali mengalir. Pertanyaannya hanya kapan konflik dapat diselesaikan sehingga jalur tersebut kembali dibuka dan produksi di Timur Tengah pulih," ucapnya.
Baca Juga
Selat Hormuz Kian Mencekam, Dua Tanker Dilaporkan Meledak Saat Melintas
Ketegangan juga semakin meluas ke wilayah lain. Kelompok Houthi yang didukung Iran sebelumnya mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah. Pekan ini, dua kapal pengangkut gas alam cair (LNG) di Pelabuhan Damietta, Mesir, juga mengalami kerusakan akibat serangan drone, meski belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Di sisi lain, kapal tanker di Laut Hitam juga kembali menjadi sasaran serangan seiring meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Kondisi tersebut mengancam ekspor minyak melalui pipa Caspian yang menjadi jalur utama ekspor Kazakhstan.
Baca Juga
Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Wakil Ketua S&P Global Dan Yergin menilai konflik energi kini telah meluas ke berbagai kawasan strategis dunia, termasuk Teluk Persia, Laut Merah, Laut Mediterania, Laut Hitam, Laut Baltik, hingga Laut Kaspia.
Menurut Yergin, persoalan terbesar saat ini justru berada pada pasokan produk olahan minyak. Sekitar 6 juta barel per hari kapasitas kilang dunia tidak beroperasi akibat konflik. Rusia menghentikan ekspor diesel setelah kilangnya diserang, sementara ekspor produk minyak dari Timur Tengah juga terganggu akibat situasi di Selat Hormuz.
"Kondisi ini mulai memengaruhi ekonomi global. Bahkan petani di Brasil kini menghadapi kenaikan harga solar karena terganggunya pasokan," ujarnya.
