Iran Kembali Serang Kapal Tanker, Ancaman di Selat Hormuz Meningkat
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Iran kembali melancarkan serangan terhadap kapal tanker yang melintas di selat Hormuz. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan telah menerima tiga laporan terpisah mengenai serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.
Ancaman keamanan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz meningkat menjadi "severe" (parah) setelah serangkaian serangan Iran terhadap kapal tanker yang menggunakan jalur pelayaran yang diamankan Angkatan Laut Amerika Serikat. Joint Maritime Information Center (JMIC) menyampaikan peringatan kepada seluruh kapal dagang pada Selasa (7/7/2026).
Baca Juga
Kapal Berbendera Singapura Diserang di Selat Hormuz, AS Tuduh Iran Langgar Kesepakatan
JMIC, pusat koordinasi keamanan maritim yang berbasis di Bahrain, memperingatkan bahwa aksi permusuhan yang disengaja oleh Iran "sangat mungkin terjadi dalam kondisi saat ini", sehingga seluruh operator kapal diminta meningkatkan kewaspadaan saat melintasi kawasan Teluk.
Situasi tersebut terjadi meski Iran sebelumnya telah menyepakati jaminan keselamatan pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam perjanjian sementara dengan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 17 Juni. Namun, setelah kesepakatan itu, Teheran justru melancarkan sejumlah serangan terhadap kapal-kapal yang menggunakan koridor pelayaran selatan yang mendapat perlindungan Angkatan Laut AS.
Analis intelijen maritim senior Windward yang berbasis di London, Michelle Wiese Bockmann, menilai Iran tengah berupaya mempertahankan pengaruhnya atas Selat Hormuz. "Pada dasarnya sedang terjadi perebutan kendali karena pengaruh terbesar Iran adalah kontrol atas Selat Hormuz," ujarnya, seperti dilansir CNBC.
Ketegangan semakin meningkat setelah Qatar menuding Iran bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker gas alam cair (LNG) Al-Rekayyat di dekat Selat Hormuz. Doha mendesak Teheran segera menghentikan tindakan yang membahayakan pasokan energi dunia.
Dua Koridor
UKMTO melaporkan telah menerima tiga laporan terpisah mengenai serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz dalam sepekan terakhir. Hal ini memunculkan kekhawatiran baru di tengah lalu lintas pelayaran yang baru saja mulai pulih.
Baca Juga
Hormuz Mulai Normal, OPEC+ Sepakati Tambahan Produksi Minyak
Menurut Bockmann, kini jalur pelayaran di Hormuz praktis terbagi menjadi dua koridor. Negara-negara Teluk menggunakan jalur selatan yang mengikuti pesisir Oman dan dijaga Angkatan Laut AS, sedangkan Iran menghendaki kapal-kapal menggunakan koridor utara yang disetujui Teheran.
Militer Iran bahkan memperingatkan akan menargetkan kapal yang tidak mengikuti rute utara tersebut. Sementara itu, jalur tradisional di bagian tengah Selat Hormuz semakin dihindari karena sebelumnya telah dipasangi ranjau oleh Iran.
Serangan-serangan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi Iran untuk mengganggu koridor selatan sekaligus mengirimkan pesan kepada negara-negara produsen minyak Teluk agar menggunakan jalur yang diinginkan Teheran.
Sebelumnya, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan koridor yang dijaga Angkatan Laut AS telah menghilangkan kemampuan Iran untuk menutup Selat Hormuz. Namun setelah pernyataan itu, Iran kembali menyerang kapal kargo yang menggunakan jalur tersebut, yang kemudian dibalas Amerika Serikat melalui gelombang baru serangan udara.
Meski lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran, aktivitasnya masih jauh di bawah kondisi sebelum perang.
Perusahaan intelijen perdagangan Kpler mencatat lebih dari 100 kapal melintasi Hormuz selama akhir pekan. Sementara data Windward menunjukkan ekspor minyak melalui selat tersebut rata-rata hanya mencapai sekitar 4,3 juta barel per hari pada Juni, jauh di bawah level sebelum konflik yang melampaui 15 juta barel per hari. Menurut Bockmann, Selat Hormuz masih belum kembali beroperasi secara normal.
