Ancaman di Selat Hormuz Memburuk, Kapal Tanker Minyak Takut Melintas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Risiko pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, mencapai titik yang disebut sebagai “skenario terburuk” setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal niaga. Kondisi tersebut menyebabkan lalu lintas kapal tanker merosot tajam, mengancam kelancaran pasokan energi global dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia apabila konflik terus meningkat. Perkembangan tersebut dilaporkan CNBC pada Jumat (17/07/2026), mengutip paparan perusahaan jasa risiko maritim Marisks dalam forum Lloyd’s List Intelligence.
Chief Executive Officer (CEO) Marisks, Dimitris Maniatis, mengatakan situasi keamanan di Selat Hormuz kini kembali berada pada level paling berbahaya bagi kapal tanker minyak. Menurut dia, awak kapal semakin khawatir untuk melintasi perairan tersebut setelah serangkaian serangan terhadap kapal dagang dalam dua pekan terakhir. “Kami melihat volume pelayaran melalui Selat Hormuz terus menurun. Awak kapal kini jauh lebih khawatir dibanding sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar bersedia berlayar,” ujar Maniatis dalam paparan tersebut, sebagaimana dikutip CNBC.
Data Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengatur pelayaran internasional, menunjukkan sedikitnya sembilan kapal menjadi sasaran serangan sejak 6 Juli 2026. Iran dituduh berupaya memaksa kapal-kapal menggunakan jalur pelayaran yang berada di wilayah teritorialnya, bukan jalur internasional di sepanjang pantai Oman yang selama ini mendapat perlindungan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Baca Juga
Kurangi Ketergantungan pada Selat Hormuz, Irak dan Suriah Hidupkan Jalur Pipa Alternatif
Serangan tersebut telah menimbulkan korban jiwa. IMO mencatat seorang pelaut tewas dan tiga lainnya terluka ketika kapal tanker minyak mentah Al Bahyah diserang di lepas pantai Oman. Pada hari yang sama, sebelas awak kapal tanker Mombasa B juga mengalami luka-luka akibat serangan serupa.
Chief Security Officer BIMCO, asosiasi pelayaran terbesar di dunia, Jakob Larsen, mengatakan Iran menggunakan rudal antikapal dalam sejumlah serangan tersebut. Selain ancaman rudal, kapal-kapal juga menghadapi risiko ranjau laut yang dinilai jauh lebih mematikan. “Jika sebuah ranjau meledak di bawah kapal, daya rusaknya sangat besar. Itu merupakan salah satu ancaman paling berbahaya bagi pelayaran,” kata Larsen.
Situasi tersebut membuat perusahaan pelayaran menghadapi dilema besar. Menurut Maniatis, persoalannya kini bukan lagi mengenai besarnya insentif atau premi risiko bagi awak kapal. “Ini bukan lagi soal uang. Yang mengendalikan pengambilan keputusan saat ini adalah rasa takut,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi seluruh kapal internasional, kecuali kapal berbendera Iran, setelah Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran pada pekan ini. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan realitas di lapangan berbeda.
Lloyd’s List Intelligence melaporkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis. Banyak kapal memilih mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) saat melintas demi alasan keamanan. Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Hormuz turun menjadi hanya delapan kapal pada Kamis (16/07/2026), dibandingkan 15 kapal sehari sebelumnya. Sebelum konflik meningkat, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Penurunan lalu lintas tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Reuters, Associated Press (AP), dan Al Jazeera melaporkan bahwa hingga 18 Juli 2026, Amerika Serikat telah melancarkan tujuh malam berturut-turut serangan udara terhadap sasaran militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker dan kepentingan AS di kawasan. Sebaliknya, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke sejumlah aset dan pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania, sehingga memperluas eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Baca Juga
Di saat bersamaan, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga kembali mengancam akan mengganggu pelayaran di Laut Merah, jalur alternatif penting bagi ekspor minyak Arab Saudi. Ancaman tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa dua jalur pelayaran energi paling strategis di dunia dapat terganggu secara bersamaan.
Menurut Larsen, perusahaan pelayaran membutuhkan jaminan keamanan yang kredibel baik dari Iran maupun Amerika Serikat agar aktivitas pelayaran dapat kembali normal. Tanpa adanya kepastian tersebut, arus perdagangan diperkirakan tetap terhambat meskipun operasi militer berhasil mengurangi kemampuan serangan Iran. “Keputusan melintasi Hormuz bukan hanya berada di tangan pemilik kapal, tetapi juga bergantung pada kesediaan awak kapal yang harus menghadapi risiko secara langsung,” katanya.
Para analis energi menilai gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi menjadi salah satu risiko terbesar bagi ekonomi global tahun ini. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia dan hampir seperlima pasokan gas alam cair (LNG) melewati selat sempit tersebut setiap hari. Apabila eskalasi terus berlanjut dan pelayaran semakin terganggu, harga minyak, biaya pengiriman, premi asuransi kapal, serta inflasi global diperkirakan akan kembali meningkat. (CNBC/Reuters/Lloyd’s/IMO/BIMCO/Kpler/AP/Al Jazeera)
